Garuda Muda Bidik Gelar Ketiga di Piala AFF U-19 2026, Kejar Ketertinggalan dari Thailand dan Australia
Baca dalam 60 detik
- Indonesia U-19 berambisi meraih trofi ketiga Piala AFF U-19 saat menjadi tuan rumah di Medan pada 2026.
- Thailand dan Australia memimpin perolehan gelar dengan lima trofi, sementara Indonesia baru memiliki dua.
- Absennya Australia sebagai peserta tetap membuka peluang bagi Indonesia untuk mendekati rekor juara terbanyak.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4904528/original/032818300_1722272413-20240729BL_Final_Piala_AFF_U-19_2024_45.JPG)
Timnas Indonesia U-19 menatap Piala AFF U-19 2026 dengan target jelas: merebut gelar ketiga sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di turnamen usia muda paling bergengsi di Asia Tenggara. Turnamen yang akan digelar di Medan pada Juni mendatang ini menjadi panggung bagi Garuda Muda untuk mempertahankan status juara bertahan sekaligus memperbaiki posisi dalam daftar peraih trofi terbanyak.
Indonesia tercatat telah dua kali menjadi juara, yakni pada edisi 2013 dan 2024. Dengan koleksi tersebut, skuad Merah Putih kini sejajar dengan Malaysia dan Myanmar yang juga mengoleksi dua gelar. Namun, untuk menyamai Thailand dan Australia yang masing-masing memiliki lima trofi, Indonesia masih membutuhkan tiga gelar tambahan. Meski demikian, absennya Australia dari beberapa edisi terakhir menjadi celah yang bisa dimanfaatkan negara-negara ASEAN untuk mendominasi.
Sebagai tuan rumah, Indonesia memiliki keuntungan tersendiri. Stadion Utama Sumatera Utara di Medan akan menjadi saksi perjuangan Garuda Muda, mulai dari babak semifinal hingga final. Dukungan publik diharapkan mampu menjadi motivasi ekstra bagi para pemain muda. Dalam beberapa edisi sebelumnya, Indonesia kerap tampil konsisten dengan finis di posisi tiga besar pada 2017, 2018, dan 2019, selain gelar juara 2024.
Persaingan di Piala AFF U-19 2026 diprediksi berlangsung ketat. Thailand, Vietnam, dan Malaysia menjadi lawan utama yang patut diwaspadai. Thailand, dengan tradisi kuat di level usia muda, selalu menjadi ancaman serius. Vietnam juga menunjukkan perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Sementara Malaysia, yang memiliki jumlah gelar sama dengan Indonesia, pasti akan berusaha mempertahankan posisi.
Bagi Indonesia, turnamen ini bukan sekadar ajang pembuktian, melainkan juga bagian dari persiapan jangka panjang menuju level yang lebih tinggi. Konsistensi prestasi di usia muda diharapkan menjadi fondasi bagi tim senior di masa depan. Pelatih dan staf kepelatihan pun telah menyiapkan strategi khusus untuk menghadapi setiap lawan, dengan memanfaatkan kecepatan dan teknik pemain lokal yang mulai menonjol.
Dengan status tuan rumah dan ambisi besar, Garuda Muda berada di persimpangan antara sejarah dan harapan. Mampukah mereka menambah koleksi trofi dan mendekati rekor Thailand serta Australia? Jawabannya akan terjawab di lapangan hijau Medan pada Juni mendatang.



