Dari Palacios hingga Beckenbauer: Jejak Pemain Bundesliga yang Mengangkat Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Exequiel Palacios menjadi pemain Bundesliga ke-60 yang meraih gelar juara Piala Dunia saat Argentina menjuarai edisi 2022.
- Bundesliga telah menjadi pemasok utama pemain bagi tim juara dunia, dengan kontribusi signifikan pada kemenangan Jerman 2014 dan 1990.
- Dominasi Bayern Munich dan Borussia Dortmund dalam skuad juara dunia menunjukkan kekuatan kompetitif liga Jerman di panggung global.

Exequiel Palacios, gelandang Bayer Leverkusen, resmi menjadi pemain Bundesliga ke-60 yang berhasil mengangkat trofi Piala Dunia setelah Argentina menaklukkan Prancis di final Qatar 2022. Prestasi ini tidak hanya menegaskan dominasi Argentina di pentas global, tetapi juga memperkuat reputasi Bundesliga sebagai salah satu liga paling produktif dalam melahirkan pemain juara dunia.
Palacios, yang saat itu berusia 24 tahun, menjalani musim 2022/23 dengan performa konsisten di bawah asuhan Xabi Alonso. Ia tampil dalam 10 dari 15 pertandingan awal Leverkusen sebelum terbang ke Qatar. Meski absen saat Argentina kalah mengejutkan dari Arab Saudi di laga perdana, Palacios kemudian turun dari bangku cadangan dalam tiga kemenangan penting: melawan Meksiko, Australia, dan Kroasia. Di partai final, ia hanya menjadi penonton saat Lionel Messi dkk menaklukkan Prancis melalui adu penalti.
Kontribusi Bundesliga dalam sejarah Piala Dunia tidak berhenti di Palacios. Empat tahun sebelumnya, Benjamin Pavard dan Corentin Tolisso menjadi andalan Prancis saat juara di Rusia 2018. Pavard, yang saat itu membela VfB Stuttgart, mencetak gol spektakuler ke gawang Argentina di babak 16 besar—sebuah gol yang dinobatkan sebagai yang terbaik sepanjang turnamen. Sementara Tolisso, yang baru bergabung dengan Bayern Munich, tampil lima kali dan memberikan assist untuk Antoine Griezmann di perempat final melawan Uruguay.
Puncak kontribusi Bundesliga terjadi pada 2014, ketika Jerman menjuarai Piala Dunia di Brasil. Dari 23 pemain yang dibawa Joachim Löw, 16 di antaranya berasal dari klub-klub Bundesliga. Bayern Munich mendominasi dengan tujuh wakil, disusul Borussia Dortmund (4), Schalke (2), serta Freiburg, Borussia Mönchengladbach, dan Hannover masing-masing satu. Kemenangan 7-1 atas Brasil di semifinal menjadi salah satu momen paling ikonik, dengan Thomas Müller mencetak lima gol sepanjang turnamen. Mario Götze, yang saat itu berseragam Bayern, menjadi pahlawan lewat gol dramatis di perpanjangan waktu final melawan Argentina.
Jejak Bundesliga dalam Piala Dunia telah dimulai sejak 1974, ketika Jerman Barat menjuarai turnamen di kandang sendiri. Franz Beckenbauer memimpin tim yang dihuni pemain-pemain Bayern dan Borussia Mönchengladbach. Gerd Müller menjadi pencetak gol terbanyak dengan empat gol, termasuk satu gol di final saat mengalahkan Belanda 2-1. Pada 1990, Beckenbauer kembali menjadi pelatih dan membawa Jerman Barat juara di Italia, dengan 17 dari 22 pemain berasal dari tujuh klub Bundesliga. Bayern kembali menjadi pemasok terbanyak dengan enam pemain, diikuti Köln dengan empat pemain.
Bagi pembaca Indonesia, sejarah ini relevan karena Bundesliga semakin populer di Tanah Air berkat siaran langsung dan kehadiran pemain Asia seperti winger asal Jepang atau Korea Selatan. Jika Indonesia ingin melahirkan pemain yang berkiprah di level tertinggi, Bundesliga bisa menjadi role model dalam pembinaan pemain muda. Liga Jerman terkenal dengan akademi yang solid dan kesempatan bermain bagi pemain lokal—sesuatu yang bisa dipelajari oleh pengelola sepak bola Indonesia.
Ke depan, dengan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, Bundesliga diprediksi tetap menjadi pemasok utama pemain bagi tim-tim unggulan. Pertanyaannya, mampukah pemain Bundesliga lainnya mengikuti jejak Palacios, Pavard, dan para legenda sebelumnya? Atau akankah muncul kejutan dari liga lain yang mulai menggeser dominasi Jerman?



