Elfyn Evans Kokoh di Puncak Klasemen WRC Usai Kemenangan Ketiga di Jepang
Baca dalam 60 detik
- Elfyn Evans menang di Rally Japan untuk ketiga kalinya dalam empat tahun, memperlebar jarak poin atas rival terdekatnya menjadi 20 poin.
- Pembalap Toyota itu unggul 12,8 detik dari Sebastien Ogier, sementara Sami Pajari finis ketiga, mengamankan dominasi Toyota di posisi 1-2-3-4.
- Evans kini menghadapi tantangan berat di tujuh seri gravel tersisa, di mana kelemahannya di masa lalu bisa mengancam posisinya sebagai pemimpin klasemen.

Elfyn Evans sukses mempertahankan posisi puncak klasemen Kejuaraan Reli Dunia (WRC) setelah meraih kemenangan ketiganya dalam empat tahun di Rally Japan, Minggu (16/3). Pebalap asal Wales itu kini unggul 20 poin atas rekan setimnya di Toyota Gazoo Racing, Takamoto Katsuta, yang duduk di peringkat kedua.
Kemenangan di Jepang menjadi yang kedua musim ini bagi Evans, sekaligus podium ke-50 dalam karier WRC-nya. Ia memimpin sejak hari pertama setelah mencatat waktu tercepat di etape ikonik Isegami's Tunnel pada Jumat, dan tak pernah kehilangan kendali selama 18 etape tersisa. Evans finis dengan keunggulan 12,8 detik di depan Sebastien Ogier, juara dunia sembilan kali, sementara Sami Pajari melengkapi podium ketiga dengan selisih 51,4 detik.
Dominasi Toyota semakin sempurna setelah Katsuta, yang ditemani co-driver asal Irlandia Aaron Johnston, finis keempat di kandang sendiri. Hasil ini membuat pabrikan Jepang itu menguasai empat besar klasemen akhir. Di sisi lain, Jon Armstrong dan Josh McErlean dari M-Sport Ford masing-masing mengumpulkan empat dan satu poin tambahan setelah finis kedelapan dan kesepuluh.
Meski memimpin, Evans enggan terbawa euforia. "Masih panjang, terlalu dini untuk membicarakan gelar," ujarnya usai balapan. Sikap hati-hati itu beralasan: musim lalu, kegagalannya memenangi satu pun dari tujuh reli gravel antara Mei dan September membuatnya harus puas sebagai runner-up untuk kelima kalinya dalam enam tahun. Kelemahan di permukaan gravel, terutama saat menjadi pembuka jalan yang menyapu permukaan, menjadi momok tersendiri.
Kondisi itu diakui Evans. "Reli gravel kering adalah titik terlemah kami di masa lalu," katanya. Mulai seri kedelapan di Acropolis Rally, Yunani (25-28 Juni), tujuh seri tersisa semuanya di gravel. Ini menjadi ujian berat bagi Evans yang kini harus membalikkan catatan buruknya di permukaan tersebut.
Sementara itu, Oliver Solberg yang sempat memangkas jarak dengan dua kemenangan etape pada Sabtu pagi, justru keluar lintasan di etape 12. Pebalap Swedia berusia 24 tahun itu mendapat kritik dari Ogier. "Sayangnya ini bukan kejutan, tapi memalukan. Risiko yang dia ambil terlalu tinggi," ujar Ogier. Solberg, yang menepis komentar tersebut, kembali berlomba dan merebut poin bonus maksimal 10 poin pada hari Minggu. Ia kini berada di peringkat ketiga klasemen dengan 102 poin, tertinggal 49 poin dari Evans. Menatap seri gravel, Solberg optimistis: "Gravel adalah kekuatan saya. Saya yakin semuanya masih mungkin."
Bagi penggemar reli di Indonesia, dominasi Toyota dan persaingan sengit di papan atas WRC bisa menjadi tontonan menarik, terutama dengan hadirnya seri-seri gravel yang kerap menghadirkan kejutan. Pertanyaan besarnya: akankah Evans mampu mematahkan kutukan gravel dan mengamankan gelar juara dunia pertamanya, atau justru kembali tersandung seperti musim lalu?



