Serangan Drone Ukraina Makin Intensif: Kilang Minyak Rusia Kembali Jadi Sasaran
Baca dalam 60 detik
- Drone Ukraina memicu kebakaran di depot minyak Armavir dan Taganrog, memperluas jangkauan serangan ke jantung industri energi Rusia.
- Serangan ini merupakan bagian dari strategi Kyiv untuk memutus pendanaan perang Moskow, yang sangat bergantung pada ekspor minyak.
- Di sisi lain, Rusia mengancam akan melancarkan 'serangan sistematis' ke Kyiv, sementara Ukraina mendesak AS untuk tambahan sistem pertahanan Patriot.

Ukraina kembali menunjukkan peningkatan kapasitas serangan jarak jauhnya dengan melancarkan serangan drone yang menyebabkan kebakaran di sejumlah fasilitas minyak Rusia, Sabtu (31/5) dini hari. Otoritas setempat melaporkan bahwa puing-puing drone yang jatuh memicu api di depot minyak dan kapal tanker di pelabuhan Taganrog, wilayah Rostov, serta depot minyak di Armavir, Krasnodar. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi serangan itu melalui akun media sosialnya, menekankan bahwa Armavir berjarak 500 kilometer dari perbatasan Ukraina. "Kami dengan sah membawa perang kembali ke tempat asalnya," tulisnya.
Serangan terhadap infrastruktur minyak Rusia kini hampir menjadi agenda harian Kyiv. Sejak invasi skala penuh Moskow dimulai lebih dari empat tahun lalu, Ukraina terus mengembangkan kemampuan drone dan rudal buatan dalam negeri untuk menjangkau target di kedalaman wilayah Rusia. Industri minyak merupakan tulang punggung pendanaan perang Kremlin, sehingga setiap serangan yang melumpuhkan kilang atau depot minyak memiliki dampak strategis langsung terhadap kemampuan logistik dan ekonomi Rusia.
Di sisi lain, Rusia tidak tinggal diam. Militer Moskow terus menghantam infrastruktur listrik Ukraina dengan rudal balistik jarak jauh, dan pekan ini Kementerian Luar Negeri Rusia mengumumkan akan melakukan "serangan sistematis" terhadap ibu kota Ukraina. Kyiv kini bersiap menghadapi gelombang baru bombardir berat. Zelenskyy pada Kamis lalu mengungkapkan bahwa ia terus mendesak Amerika Serikat untuk mengirimkan lebih banyak sistem pertahanan udara Patriot, yang dinilai efektif mencegat rudal balistik Rusia.
Ketegangan juga meningkat di perbatasan NATO. Sehari sebelum serangan ke Armavir, sebuah drone Rusia yang menyerang Ukraina dilaporkan menabrak gedung apartemen di Rumania timur, melukai dua orang. Insiden ini memicu kekhawatiran bahwa perang dapat meluas melintasi perbatasan aliansi, dan menuai kecaman keras dari negara-negara Eropa. Bagi Indonesia, eskalasi ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga stabilitas kawasan dan memperkuat diplomasi multilateral untuk mencegah konflik global yang lebih luas.
Sementara itu, perusahaan energi nuklir milik negara Rusia, Rosatom, mengklaim bahwa sebuah drone Ukraina menyerang Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia yang dikuasai Rusia. CEO Rosatom Alexei Likhachev menyatakan bahwa serangan itu tidak merusak peralatan vital, tetapi meninggalkan lubang di dinding aula turbin. Ia menambahkan bahwa drone tersebut dikendalikan melalui serat optik, yang menurutnya "sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan dampak yang tidak disengaja." Ukraina belum memberikan tanggapan resmi atas klaim tersebut.
Pembangkit Zaporizhzhia, yang merupakan PLTN terbesar di Eropa, sudah tidak beroperasi sejak awal invasi. Namun, fasilitas itu masih membutuhkan pasokan listrik yang stabil untuk mendinginkan enam reaktor yang dimatikan dan bahan bakar bekasnya. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) berulang kali menyatakan kekhawatiran atas keselamatan PLTN tersebut, mengingat risiko bencana nuklir jika sistem pendingin terganggu. Pertanyaan yang kini mengemuka: sejauh mana kedua belah pihak bersedia menahan diri untuk tidak menyerang infrastruktur energi yang berpotensi menimbulkan bencana kemanusiaan skala besar?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7608164/original/056370700_1780392984-1.jpg)

