Di Balik Sajian Daging Kurban: Perjuangan Menembus Ombak dan Tebing Maluku
Baca dalam 60 detik
- Dompet Dhuafa menyalurkan 108 sapi dan 10 kambing ke tujuh daerah terpencil di Maluku, dengan medan tempuh hingga delapan jam laut dan darat.
- Bagi warga kepulauan, daging sapi adalah barang mewah karena harga tak terjangkau penghasilan harian; ikan menjadi lauk utama sehari-hari.
- Distribusi kurban tahun ini meningkat, namun masih banyak pulau yang belum tersentuh, menjadi tantangan logistik tahunan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7397574/original/036822800_1780176856-WhatsApp_Image_2026-05-30_at_19.22.14.jpeg)
Bagi warga di pelosok Maluku, sepiring daging sapi bukan sekadar hidangan—melainkan simbol perjuangan dan kebersamaan yang harus dijemput dengan menyeberangi lautan bergelombang dan melewati jalur terjal. Di tengah keterbatasan akses dan ekonomi, momen Idul Adha menjadi satu-satunya kesempatan bagi mereka untuk menikmati protein hewani yang mahal dan langka.
Dompet Dhuafa, lembaga filantropi Islam, mencatat peningkatan distribusi hewan kurban tahun ini di Maluku. Sebanyak 108 ekor sapi dan 10 kambing dikirim ke tujuh daerah, meliputi Pulau Buru, Pulau Tiga, dan Desa Sepa di Maluku Tengah. "Alhamdulillah jumlah hewan kurban dan penerima meningkat," ujar La Januri, pimpinan cabang Dompet Dhuafa Maluku, dalam keterangannya akhir pekan lalu.
Namun, di balik angka tersebut, ada kisah logistik yang menguras tenaga. Tim penyalur harus menempuh perjalanan darat dan laut berjam-jam. Menuju Pulau Buru, misalnya, butuh delapan jam perjalanan dilanjut menyeberangi sungai dengan rakit. Di Desa Wabloi, akses hanya bisa dilalui mobil dengan kecepatan tinggi di jalan menanjak dan menurun selama dua jam dari pusat Kota Ambon. Sementara ke Pulau Tiga, sapi diangkut dari Ambon melalui darat lalu diseberangkan dengan perahu motor—ombak besar menjadi tantangan tersendiri.
Keterbatasan infrastruktur dan geografis membuat harga daging sapi di pasar lokal melambung. Ibu Ani, warga Dusun Rohua, Desa Sepa, menuturkan bahwa untuk membeli daging atau ayam, ia harus ke pasar dengan ongkos transportasi yang tidak sedikit. "Kalau kami memotong ternak? Kami bukan untung," keluhnya. Sehari-hari, ikan menjadi lauk utama karena bisa dipancing langsung dari laut tanpa biaya.
Fenomena ini mencerminkan kesenjangan pangan yang masih lebar di Indonesia timur. Meski kaya akan hasil laut, akses terhadap protein hewani darat sangat terbatas. Harga daging sapi yang mencapai Rp120.000–150.000 per kilogram di beberapa pulau jauh di atas daya beli warga yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan atau petani subsisten. Idul Adha menjadi momen langka untuk menikmati daging tanpa harus menguras tabungan.
La Januri mengakui, cakupan distribusi masih jauh dari ideal. "Banyak daerah belum terjangkau. Tapi kami berkomitmen, setiap tahun jumlah hewan kurban bertambah dan penerima manfaat lebih banyak," katanya. Tahun ini, sambutan warga di Pulau Tiga sangat antusias—sapi-sapi yang tiba disambut dengan suka cita, seolah pesta kecil di tengah keterpencilan.
Ke depan, tantangan logistik dan pembiayaan masih menjadi pekerjaan rumah. Dompet Dhuafa berencana memperluas jangkauan ke pulau-pulau yang lebih terisolasi, namun membutuhkan dukungan donasi dan koordinasi dengan pemerintah daerah. Pertanyaannya, akankah momen Idul Adha bisa menjadi katalis untuk perbaikan akses pangan yang lebih merata di wilayah kepulauan Indonesia?



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/849473/original/011026700_1428838017-Ilustrasi-pembunuhan-wanita.jpg)