Peluru Latihan TNI Diduga Nyasar, Dua Orang di Kampus UNP Terluka
Baca dalam 60 detik
- Dua orang terkena tembakan saat mahasiswa UNP merayakan seminar proposal, diduga dari latihan TNI di Lapai yang berjarak 800 meter.
- Korban Nova Wirantika menjalani operasi karena selongsong peluru bersarang di paha, sementara Guruh Guino dirawat di RS Tentara.
- TNI mengaku bertanggung jawab penuh atas biaya perawatan dan masih menyelidiki asal peluru, sementara kampus dijaga ketat.

Dua orang menjadi korban dugaan peluru nyasar yang diduga berasal dari latihan tembak TNI di Lapai, Sumatera Barat, saat mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) tengah merayakan kelulusan ujian seminar proposal, Selasa (2/6) sore.
Korban adalah Nova Wirantika, 25, mahasiswi Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial UNP, dan Guruh Guino, yang bukan mahasiswa UNP. Keduanya sedang duduk di alun-alun depan Rektorat UNP bersama teman-teman ketika insiden terjadi sekitar pukul 17.00 WIB. Nova terkena tembakan di paha kiri dan harus menjalani operasi karena selongsong peluru masih bersarang. Guruh telah mendapat penanganan medis dan dipindahkan ke Rumah Sakit Tentara Rekso Sudiryo Ganting Padang untuk pemulihan.
Menurut Sekretaris UNP, Erianjoni, mahasiswa sedang merayakan hasil ujian seminar proposal dengan sukacita. "Biasa anak-anak habis ujian seminar proposal, merayakan dengan bersukacita dengan teman-teman. Lalu mereka terkena tembakan peluru nyasar," ujarnya. Rektor UNP Krismadinata yang berada di lokasi segera berkoordinasi dengan Pangdam XX Tuanku Imam Bonjol, Komandan Batalyon 133, KABINDA, dan Polsek Padang Utara. Tim medis UNP langsung membawa korban ke RS Hermina Padang menggunakan ambulans kampus.
Kapendam XX Tuanku Imam Bonjol, Letkol Kav Taufiq, membenarkan adanya dugaan peluru nyasar, namun belum memastikan apakah peluru berasal dari anggota Kodam yang sedang latihan. "Memang benar ada kejadian, ada dua masyarakat kita yang kena peluru nyasar, namun yang belum bisa dipastikan apakah peluru itu berasal dari anggota kodam kita yang sedang latihan atau bukan," ungkapnya. Ia menambahkan, pada saat kejadian Batalion DTP Singgalang sedang melakukan latihan penembakan dari pagi hingga sore menggunakan senjata laras panjang di lokasi yang berjarak sekitar 800 meter dari kampus.
TNI menyatakan akan bertanggung jawab penuh atas biaya perawatan kedua korban hingga sembuh. Pangdam Mayjen TNI Arief Gajah Mada bersama jajarannya hadir di RS Hermina untuk memberikan pertolongan. Sementara itu, aparat memperketat pengamanan di sekitar kampus UNP dan RS Hermina Padang pasca-insiden. Investigasi masih berlangsung untuk memastikan asal peluru dan mengevaluasi prosedur latihan tembak di dekat area pemukiman dan kampus.
Insiden ini kembali menyoroti risiko latihan militer di dekat kawasan sipil. Pertanyaan yang mengemuka: apakah jarak aman 800 meter sudah memadai, dan bagaimana pengawasan terhadap latihan tembak di masa depan agar tragedi serupa tidak terulang?



