Bima Arya: Bonus Demografi Tak Abadi, Anak Muda Harus Siapkan Diri Sambut Indonesia Emas 2045
Baca dalam 60 detik
- Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya mendorong generasi muda meningkatkan kualitas diri menyongsong Indonesia Emas 2045 di tengah optimisme lembaga internasional terhadap potensi ekonomi Indonesia.
- Bima mengingatkan bonus demografi bersifat sementara, sehingga anak muda harus memiliki arah hidup jelas dan kemampuan berkolaborasi lintas sektor.
- Kunci sukses menurut Bima adalah penguasaan jejaring, pemanfaatan momentum, serta keseimbangan antara wawasan global dan jati diri kebangsaan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7415284/original/087574900_1780193236-WhatsApp_Image_2026-05-31_at_09.01.28.jpeg)
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mengingatkan bahwa bonus demografi yang kini dinikmati Indonesia tidak akan berlangsung selamanya, sehingga generasi muda harus segera membangun kualitas diri untuk menyambut target Indonesia Emas 2045. Pernyataan itu disampaikan di hadapan ratusan pelajar dalam Kongres IV Blok Pelajar Politik Merdeka di Bogor, Sabtu (30/5/2026).
Bima merujuk pada proyeksi berbagai lembaga internasional yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia dalam beberapa dekade mendatang. Namun, menurutnya, capaian itu hanya akan terwujud jika sumber daya manusia (SDM) Indonesia, khususnya generasi muda, mampu bersaing secara global. โSaat ini kita tengah mendapatkan bonus demografi, yaitu ketika usia produktif lebih banyak daripada lansia dan anak-anak. Tapi, bonus demografi ini enggak selamanya,โ ujarnya.
Dalam forum yang digelar di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Badan Narkotika Nasional (BNN) itu, Bima mengingatkan para pelajar agar tidak terjebak dalam kebingungan menentukan masa depan. Menurutnya, generasi muda harus mampu menyelesaikan persoalan internal diri sendiri serta memiliki arah dan tujuan hidup yang jelas. โJangan sampai kalian bingung mau jadi apa. Selesaikan dulu masalah dalam diri, baru kalian bisa memaksimalkan potensi,โ tegasnya.
Lebih dari sekadar kemampuan individu, Bima menekankan pentingnya kepedulian sosial dan kolaborasi. Ia menilai kualitas generasi muda tidak hanya diukur dari kecerdasan akademik, tetapi juga dari kepekaan terhadap persoalan di sekitar dan kemampuan bekerja sama lintas sektor. โMasa depan akan dimiliki orang-orang yang terampil untuk menggunakan jejaring dan berkolaborasi,โ katanya.
Di sisi lain, Bima mendorong para pelajar untuk terus memperkuat kompetensi dan memperluas wawasan global tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Adaptasi terhadap perkembangan dunia, menurutnya, harus beriringan dengan semangat kebangsaan. Ia juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan setiap momentum yang ada. โSemua tokoh-tokoh besar adalah orang-orang yang hebat memanfaatkan momentum. Semua politisi, ilmuwan, pengusaha, itu mereka paham momentum,โ tandasnya.
Pesan Bima ini menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki jendela kesempatan yang terbatas untuk mentransformasi bonus demografi menjadi keunggulan kompetitif. Pertanyaannya, apakah generasi muda saat ini benar-benar siap merebut peluang itu, atau justru akan melewatkannya karena kurangnya persiapan dan arah yang jelas?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5550396/original/088397900_1775689022-WhatsApp_Image_2026-04-09_at_05.41.12.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5772716/original/078978300_1778675572-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7598036/original/037626400_1780381585-1.jpg)