Sjafrie Sjamsoeddin Terima Menhan Qatar, Teken MoU Pertahanan Baru
Baca dalam 60 detik
- Indonesia dan Qatar menandatangani Nota Kesepahaman pertahanan baru yang mencakup latihan militer bersama dan peningkatan profesionalisme prajurit.
- Kunjungan Menhan Qatar ke Jakarta merupakan balasan atas lawatan Sjafrie Sjamsoeddin ke Doha pada April 2025, menandai penguatan hubungan bilateral.
- Kesepakatan ini membuka peluang bagi industri pertahanan Indonesia untuk menjajaki kerja sama dengan Qatar, salah satu negara dengan anggaran militer besar di Timur Tengah.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7598036/original/037626400_1780381585-1.jpg)
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menerima kunjungan kehormatan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Qatar, Sheikh Saoud bin Abdulrahman Al Thani, di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa (2/6/2026). Pertemuan tersebut menghasilkan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pertahanan baru yang menjadi landasan bagi kerja sama lebih erat antara kedua negara.
Dalam sambutannya, Sjafrie menekankan pentingnya memperkuat hubungan bilateral di bidang pertahanan, terutama di tengah dinamika keamanan global yang semakin kompleks. Melalui MoU ini, Indonesia dan Qatar sepakat untuk meningkatkan profesionalisme prajurit dengan menggelar latihan militer bersama di masa mendatang. Kesepakatan ini juga menjadi langkah awal menuju Defence Cooperation Agreement (DCA) yang lebih komprehensif.
Kunjungan Sheikh Saoud ke Jakarta merupakan respons atas lawatan kerja yang dilakukan Sjafrie ke Qatar pada April 2025. Hal ini menunjukkan komitmen kedua negara untuk terus memperdalam kerja sama strategis, tidak hanya di bidang pertahanan tetapi juga di sektor-sektor lain yang saling menguntungkan.
Bagi Indonesia, kerja sama dengan Qatar memiliki nilai strategis. Qatar dikenal sebagai salah satu negara dengan anggaran pertahanan terbesar di kawasan Timur Tengah, serta memiliki pengalaman dalam operasi penjaga perdamaian dan kontra-terorisme. Melalui kemitraan ini, Indonesia dapat mengakses teknologi dan pelatihan militer modern, sementara Qatar memperoleh mitra yang stabil di kawasan Asia Tenggara.
Di sisi lain, kerja sama ini juga membuka peluang bagi industri pertahanan dalam negeri. Produk-produk seperti pesawat CN-235, kapal perang, dan amunisi buatan PT Pindad serta PT PAL berpotensi dipasarkan ke Qatar. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendorong kemandirian industri pertahanan nasional melalui transfer teknologi dan joint venture.
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia menilai bahwa langkah ini memperkuat posisi Indonesia di panggung global, terutama dalam membangun aliansi non-blok yang seimbang. โKerja sama dengan Qatar menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya bergantung pada mitra tradisional seperti Amerika Serikat atau Australia, tetapi juga aktif menjalin hubungan dengan negara-negara Timur Tengah,โ ujarnya.
Ke depan, implementasi MoU ini akan menjadi ujian bagi komitmen kedua negara. Apakah latihan militer bersama dapat berjalan sesuai rencana? Bagaimana tindak lanjut DCA yang dijanjikan? Publik menanti realisasi dari kesepakatan yang telah diteken di atas kertas.



