Jepang yang Dulu Gila Kulit Cokelat, Kini Jauhi Pantai karena Takut UV dan Heatstroke
Baca dalam 60 detik
- Tren berjemur di Jepang yang populer sejak 1960-an meredup drastis akibat meningkatnya kesadaran akan risiko sinar UV dan gelombang panas ekstrem.
- Jumlah pengunjung pantai Jepang anjlok dari 37,9 juta pada 1985 menjadi kurang dari sepersepuluhnya dalam 40 tahun, dipicu oleh penemuan lubang ozon, produk tabir surya, dan perubahan gaya hidup.
- Fenomena ini mengancam industri pariwisata bahari Jepang, sementara Indonesia justru menghadapi tantangan serupa dengan meningkatnya suhu ekstrem dan degradasi pantai.

Dulu berjemur di pantai adalah simbol musim panas di Jepang, tetapi kini tren itu berubah drastis: jumlah pengunjung pantai merosot hingga 90% dalam empat dekade terakhir. Pada 1985, tercatat 37,9 juta orang memadati pantai-pantai Jepang. Kini, angka tersebut diperkirakan hanya sekitar 3,8 juta—sebuah kemerosotan yang menandai berakhirnya era keemasan wisata bahari di Negeri Matahari Terbit.
Perubahan ini berawal dari kampanye kosmetik legendaris. Pada 1966, Shiseido meluncurkan kampanye musim panas bertajuk "Biarkan matahari mencintaimu" yang menampilkan model Bibari Maeda (17 tahun) dalam balutan baju renang. Kampanye itu memicu demam kulit cokelat di seluruh Jepang, mematahkan kepercayaan tradisional bahwa "kulit putih menyembunyikan tujuh cacat". Tren ini berlanjut hingga akhir era Showa (1926–1989), di mana artis seperti Masako Natsume dan lagu hits "Wheat-colored mermaid" karya Seiko Matsuda semakin mengukuhkan popularitas kulit sawo matang yang sehat.
Namun, titik balik terjadi pada awal 1980-an. Ekspedisi Riset Antarktika Jepang menemukan adanya lubang ozon, yang memicu kekhawatiran global akan radiasi ultraviolet (UV) berbahaya. Penemuan itu mendorong regulasi ketat terhadap gas CFC, sekaligus mengubah persepsi masyarakat Jepang tentang berjemur. Memasuki era Heisei (1989–2019), kosmetik pelindung UV menjadi produk terlaris dan akhirnya menjadi kebutuhan standar. Akibatnya, orang mulai menghindari pantai saat musim panas ketika tingkat UV mencapai puncak.
Faktor lain yang memperparah penurunan ini adalah diversifikasi kegiatan rekreasi, seperti maraknya konsol video game rumahan yang membuat orang lebih betah di dalam ruangan. Selain itu, gelombang panas ekstrem menjadi momok tersendiri. Musim panas di Jepang kini kerap mencatat suhu di atas 40 derajat Celsius—yang disebut "hari-hari kejam"—sehingga sekadar pergi ke pantai pun membawa risiko sengatan panas (heatstroke). Belum lagi, naiknya permukaan laut akibat pemanasan global perlahan mengikis pasir pantai, mengurangi jumlah pantai yang resmi dibuka untuk wisatawan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Jepang. Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, mulai menghadapi gejala serupa. Meskipun wisata pantai masih menjadi primadona, kesadaran masyarakat akan bahaya sinar UV dan risiko heatstroke semakin meningkat. Produk tabir surya lokal kini laris manis, sementara beberapa destinasi pantai populer mulai sepi saat puncak musim panas karena cuaca yang tak bersahabat. Di sisi lain, tren sosial media seperti Instagram justru mendorong munculnya atraksi baru—seperti spot foto estetik dan kafe tepi pantai—yang diharapkan bisa menghidupkan kembali minat wisatawan. Jepang pun mulai mengadopsi strategi serupa, menawarkan pengalaman unik yang "instagrammable" untuk menarik generasi muda agar tidak semakin menjauh dari laut. Namun, pertanyaan besarnya: apakah inovasi digital cukup untuk mengembalikan kejayaan pantai Jepang, ataukah era berjemur memang telah berakhir untuk selamanya?



