Monaco GP 2026: Ferrari Siap Patahkan Dominasi Mercedes di Sirkuit Khas
Baca dalam 60 detik
- Karakter sirkuit Monaco yang minim ketergantungan pada tenaga mesin membuat keunggulan cornering Ferrari menjadi aset utama untuk mengakhiri tren kemenangan beruntun Mercedes.
- Kimi Antonelli memimpin klasemen dengan selisih 43 poin atas rekan setimnya George Russell, meskipun keberuntungan disebut turut berperan dalam rentetan kemenangannya.
- Presiden FIA Mohammed Ben Sulayem kembali menjadi sorotan setelah berupaya menghapus batasan masa jabatan, memicu kekhawatiran tentang tata kelola organisasi.

Putaran keenam Formula 1 2026 di Grand Prix Monaco akhir pekan ini menjadi ujian pertama bagi dominasi Mercedes yang sejauh ini sempurna. Sirkuit jalan raya Monte Carlo, dengan karakteristiknya yang unik, diprediksi membuka peluang bagi Ferrari untuk merebut kemenangan perdana musim ini.
Mercedes memang tampil perkasa dengan lima kemenangan beruntun dari posisi terdepan. Namun, analis menilai Monaco adalah arena yang berbeda. Sirkuit ini memiliki ketergantungan paling rendah terhadap tenaga mesin dan paling tinggi terhadap kemampuan menikung, terutama pada kecepatan rendah hingga menengah. Di sinilah Ferrari unggul.
Mobil Ferrari musim ini terbukti sangat kompeten di tikungan, bahkan disebut yang tercepat di antara rival. Mesinnya juga memiliki karakter responsif pada putaran bawah, yang sangat menguntungkan di trek sempit seperti Monaco. Sementara itu, kelemahan tenaga puncak mesin Ferrari tidak menjadi masalah signifikan di sirkuit yang tidak membutuhkan kecepatan tertinggi.
Faktor pembalap juga menjadi nilai tambah. Charles Leclerc dikenal sebagai spesialis Monaco, dengan catatan kualifikasi impresif dalam enam tahun terakhir: tiga kali pole, dua kali posisi kedua, dan sekali ketiga. Lewis Hamilton, yang juga tiga kali juara di Monaco, sedang dalam performa lebih baik dibanding dua musim sebelumnya. Kombinasi mobil, mesin, dan pembalap inilah yang membuat Ferrari difavoritkan.
Meski demikian, McLaren dan Red Bull tidak bisa diabaikan. Lando Norris, pemenang Monaco tahun lalu, menunjukkan kecepatan McLaren di tikungan lambat. Sementara Max Verstappen selalu menjadi ancaman di setiap sirkuit. Akhir pekan ini diprediksi menjadi yang terketat sepanjang musim.
Di sisi lain, keunggulan Kimi Antonelli di klasemen pembalap menuai perdebatan. Banyak yang menilai keberuntungan turut berperan dalam empat kemenangan beruntunnya. Di China, ia diuntungkan strategi tim; di Jepang, safety car memberinya keunggulan; di Miami, kesalahan McLaren membuka jalannya; dan di Kanada, George Russell mundur karena masalah mesin saat memimpin. Namun, performa Antonelli musim ini tidak bisa diremehkan. Ia menunjukkan peningkatan signifikan dan kecepatan yang sepadan dengan Russell. Dalam duel kualifikasi, keduanya imbang 4-4, dengan Antonelli unggul rata-rata 0,074 detik.
Sementara itu, masalah posisi duduk Fernando Alonso di Aston Martin menjadi perhatian tersendiri. Alonso mundur di Kanada karena ketidaknyamanan yang semakin parah, bukan karena kursi longgar seperti yang banyak diasumsikan. Tim akan mencoba solusi di Monaco, seperti menaikkan posisi duduk atau menyesuaikan pedal. Masalah ini tidak ada kaitannya dengan usia Alonso, melainkan akibat perubahan posisi duduk yang lebih rebah untuk menurunkan pusat gravitasi.
Di luar lintasan, isu tata kelola FIA kembali mencuat. Presiden FIA Mohammed Ben Sulayem dikabarkan berupaya menghapus batasan masa jabatan presiden, yang dikritik sebagai langkah memperkuat posisinya dan melemahkan transparansi. Langkah ini merupakan bagian dari serangkaian kebijakan kontroversial, termasuk pemecatan sejumlah pejabat dan aturan pemilu yang membatasi kandidat lain. FIA membantah tuduhan tersebut, menyatakan semua perubahan disetujui oleh klub anggota dengan suara mayoritas. Namun, kekhawatiran di kalangan F1 tetap tinggi, meskipun banyak pihak enggan bersuara terbuka karena takut akan konsekuensi.
Dengan berbagai dinamika ini, Grand Prix Monaco 2026 tidak hanya menjanjikan persaingan sengit di lintasan, tetapi juga menyoroti isu-isu krusial di balik layar yang akan membentuk masa depan Formula 1.



