Kanada Umumkan Skuad 'Terbaik Sepanjang Sejarah' untuk Piala Dunia 2026, Diperkuat Bintang Serie A
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Jesse Marsch memanggil 26 pemain terbaik Kanada untuk Piala Dunia 2026, termasuk Jonathan David (Juventus) dan Ismael Koné (Sassuolo).
- Alphonso Davies, yang cedera panjang, tetap masuk skuad meski kemungkinan absen di laga pertama.
- Kanada, sebagai tuan rumah bersama, akan menghadapi Bosnia, Qatar, dan Swiss di fase grup.

Jesse Marsch, pelatih asal Amerika Serikat yang menukangi tim nasional Kanada, akhirnya merilis daftar 26 pemain yang akan berlaga di Piala Dunia 2026. Dalam pernyataannya, ia menyebut skuad ini sebagai yang terbaik yang pernah dimiliki negara tersebut sepanjang sejarah. Keputusan ini sekaligus mengonfirmasi bahwa Kanada, yang bertindak sebagai tuan rumah bersama Amerika Serikat dan Meksiko, tidak akan main-main dalam pesta sepak bola terbesar dunia yang akan digelar pada 11 Juni hingga 19 Juli mendatang.
Dari daftar yang diumumkan, dua nama dari Serie A langsung mencuri perhatian: Jonathan David, striker Juventus yang tengah on-fire, dan Ismael Koné, gelandang Sassuolo yang mulai menanjak. Selain itu, Tajon Buchanan, mantan gelandang Inter Milan yang kini membela Villarreal, juga masuk dalam skuad. Kehadiran mereka memberikan warna Eropa yang kuat pada tim asuhan Marsch.
Keputusan paling krusial adalah dimasukkannya Alphonso Davies, bek sayap Bayern Munich yang sempat diragukan tampil akibat cedera. Davies absen delapan bulan setelah mengalami robek ligamen anterior lutut pada Oktober 2025, dan baru pulih dari masalah otot yang ia derita saat semifinal Liga Champions. Meski kemungkinan besar melewatkan laga pertama, ia tetap diberi lampu hijau untuk bergabung. “Kami benar-benar memiliki kelompok 26 pemain terbaik yang pernah dikumpulkan negara ini,” ujar Marsch dalam konferensi pers, seperti dikutip dari laporan media Italia.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, pengumuman ini menarik karena menunjukkan bagaimana negara tuan rumah yang sebelumnya tidak diunggulkan mampu membangun tim kompetitif. Kanada, yang lolos otomatis sebagai tuan rumah, tidak hanya mengandalkan status tersebut. Mereka serius memanfaatkan momen ini untuk menunjukkan perkembangan sepak bola di Amerika Utara. Dengan format turnamen yang diperluas menjadi 32 tim, persaingan di grup mereka—menghadapi Bosnia dan Herzegovina, Qatar, serta Swiss—diprediksi ketat.
Marsch, yang sebelumnya menangani Leeds United di Premier League, dikenal sebagai pelatih dengan pendekatan taktis modern. Ia memadukan pemain-pemain berpengalaman di Eropa dengan talenta lokal dari MLS. Kehadiran David dan Koné di lini depan dan tengah diharapkan menjadi motor serangan. Sementara itu, lini belakang yang diperkuat Davies—meski belum fit penuh—dan bek-bek tangguh seperti Alistair Johnston (Celtic) serta Moise Bombito (Nice) diyakini mampu meredam lawan.
Namun, tantangan terbesar Kanada justru terletak pada konsistensi performa. Sebagai tim yang jarang tampil di panggung besar—terakhir kali mereka lolos Piala Dunia pada 1986—tekanan bermain di kandang sendiri bisa menjadi bumerang. Apalagi, grup mereka tidak ringan: Swiss adalah tim langganan turnamen, sementara Bosnia dan Qatar memiliki pemain-pemain berkualitas. Marsch harus pintar mengatur rotasi, terutama jika Davies belum pulih sepenuhnya.
Ke depan, publik sepak bola dunia akan mengamati apakah Kanada mampu melampaui ekspektasi. Dengan skuad yang disebut “terbaik sepanjang masa” ini, mereka tidak hanya ingin menjadi peserta, tetapi juga bersaing di fase gugur. Pertanyaannya: bisakah mereka mengatasi tekanan sebagai tuan rumah dan membuktikan bahwa sepak bola Kanada kini layak diperhitungkan?



