Menapaki 660 Km demi Perdamaian: Biksu Thudong Tiba di Candi Sewu Jelang Waisak
Baca dalam 60 detik
- Puluhan biksu Buddha menuntaskan perjalanan kaki sejauh 660 kilometer dari Bali ke Candi Sewu, Klaten, sebagai bagian dari Indonesia Walk of Peace 2026.
- Ritual thudong ini menjadi simbol perdamaian dunia dan kerukunan umat beragama, bertepatan dengan perayaan Tri Suci Waisak yang puncaknya di Candi Borobudur.
- Perjalanan spiritual lintas pulau ini menyoroti kekayaan tradisi Buddha di Indonesia dan potensi wisata religi yang menghubungkan situs-situs warisan dunia.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7269297/original/061076000_1780055115-1.jpg)
Ratusan kilometer telah mereka tempuh dengan kaki telanjang, meninggalkan jejak di aspal dan tanah Jawa, demi satu misi: menebar pesan damai. Jumat, 29 Mei 2026, rombongan biksu Buddha yang mengikuti Indonesia Walk of Peace (IWOP 2026) akhirnya tiba di Candi Sewu, Klaten, Jawa Tengah, menandai babak baru perjalanan spiritual yang telah berlangsung selama 20 hari.
Berawal dari Pulau Bali, para bhikkhu ini berjalan sejauh 660 kilometer menuju Candi Borobudur di Magelang, tempat puncak perayaan Tri Suci Waisak 2570 BE akan digelar pada Minggu, 31 Mei 2026. Candi Sewu, yang merupakan bagian dari Kompleks Candi Prambanan dan masuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO, menjadi salah satu titik persinggahan sakral sebelum mereka melanjutkan langkah ke destinasi akhir.
Indonesia Walk of Peace bukan sekadar ziarah biasa. Tradisi thudong—praktik berjalan kaki yang dilakukan para biksu sebagai bentuk asketisme—kali ini diangkat menjadi gerakan simbolis untuk perdamaian dunia dan kerukunan antarumat beragama. Di tengah ketegangan global yang masih membayangi, aksi hening puluhan biksu yang melintasi desa dan kota di Jawa menjadi pengingat bahwa harmoni bisa dirawat dengan langkah sederhana.
Tri Suci Waisak sendiri merupakan hari raya terbesar umat Buddha yang memperingati tiga peristiwa penting: kelahiran Siddharta Gautama, pencapaian pencerahan sempurna sebagai Buddha, dan parinibbana (wafatnya Sang Buddha). Rangkaian prosesi sakral tidak hanya berpusat di Candi Borobudur, tetapi juga tersebar di berbagai wihara di seluruh Indonesia, menjadikan momen ini sebagai perayaan nasional yang melibatkan komunitas Buddhis dari berbagai daerah.
Bagi Indonesia, peristiwa ini memiliki dimensi lebih dari sekadar ritual keagamaan. Di tengah upaya pemerintah mempromosikan wisata spiritual dan budaya, IWOP 2026 menjadi contoh nyata bagaimana tradisi lokal bisa menjadi daya tarik global. Candi Sewu dan Candi Borobudur, sebagai dua mahakarya arsitektur Buddha kuno, kembali mendapat sorotan internasional. “Perjalanan ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki warisan spiritual yang hidup, bukan sekadar monumen batu,” ujar seorang pengamat pariwisata budaya.
Kehadiran para biksu yang berjalan kaki melintasi Pulau Jawa juga mengundang decak kagum warga setempat. Di setiap desa yang dilalui, mereka disambut dengan hormat dan kadang diberi bekal makanan. Fenomena ini mengingatkan pada tradisi thudong yang pernah populer di masa kerajaan-kerajaan Buddha di Nusantara, kini dihidupkan kembali dalam kemasan modern yang relevan dengan isu perdamaian global.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah Indonesia Walk of Peace menjadi agenda tahunan yang mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat wisata religi Buddha? Ataukah ia akan tetap menjadi peristiwa sekali waktu yang hanya dikenang saat Waisak tiba? Yang jelas, langkah para biksu itu telah menorehkan cerita baru di atas kanvas sejarah Nusantara—sebuah cerita tentang keyakinan, ketekunan, dan harapan akan dunia yang lebih damai.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3938374/original/017867600_1645165607-20220218-Waspada_Cuaca_Ekstrem_di_Jakarta-5.jpg)