IHSG Terbang 1,49% di Sesi I: Saham Konglomerat Kembali Berjaya, BREN Jadi Motor Utama
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat 1,49% pada sesi pertama perdagangan Selasa (2/6/2026), ditopang oleh aksi beli saham-saham grup konglomerat seperti Barito Pacific dan Chandra Asri.
- Emiten Grup Barito mendominasi panggung dengan BREN dan CUAN menyentuh batas auto rejection atas (ARA), sementara TPIA melesat 12,04% dan BRPT naik lebih dari 5%.
- Di tengah euforia domestik, bursa Asia-Pasifik justru melemah akibat kekhawatiran negosiasi damai AS-Iran yang belum pasti, membuat investor global cenderung wait and see.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan reli signifikan pada sesi pertama perdagangan Selasa (2/6/2026) dengan melesat 91,48 poin atau 1,49% ke level 6.218,86. Pergerakan ini didorong oleh aksi borong saham-saham emiten konglomerat yang kembali mendominasi panggung bursa, khususnya Grup Barito milik Prajogo Pangestu.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 347 saham berhasil menguat, sementara 338 saham melemah dan 274 lainnya stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp14,81 triliun dengan volume 16,03 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,53 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun ikut terdongkrak menjadi Rp10.938 triliun.
Saham-saham Grup Barito menjadi primadona dengan kontribusi terbesar terhadap penguatan IHSG. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) tercatat sebagai penggerak utama indeks dengan sumbangsih 27,67 poin, disusul PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar 16,71 poin, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) 10,98 poin. BREN dan CUAN bahkan menyentuh batas auto rejection atas (ARA), sementara PTRO dan BRPT melesat lebih dari 5%, serta TPIA menguat 12,04%.
Selain Grup Barito, saham emiten batu bara Grup Sinar Mas (DSSA) yang sebelumnya sempat anjlok nyaris 90% tahun ini, ikut menguat signifikan hingga menyentuh ARA. Saham AMMN milik Grup Salim juga melompat 14,85%. Emiten dari Grup Bakrie hingga milik Happy Hapsoro turut mencatatkan penguatan pada perdagangan hari ini. Secara sektoral, utilitas dan bahan baku menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi, sementara kesehatan, teknologi, industri, dan konsumer primer justru mengalami koreksi.
Di sisi lain, momentum penguatan IHSG terjadi di tengah tekanan dari bursa Asia-Pasifik yang dibuka melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,52%, Topix terkoreksi 0,98%, Kospi Korea Selatan melemah 0,32%, dan Kosdaq anjlok 2,5%. Pasar Australia juga tak luput dari tekanan dengan S&P/ASX 200 turun 0,67%. Pelemahan ini dipicu meningkatnya ketidakpastian terkait negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump dalam wawancara dengan CNBC meremehkan kemungkinan gagalnya pembicaraan damai dengan Teheran, namun pernyataan itu justru membuat investor global cenderung berhati-hati.
Dari dalam negeri, pelaku pasar mulai mencermati implementasi kebijakan strategis pemerintah yang berlaku sejak 1 Juni 2026. Salah satu yang paling menonjol adalah pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) sebagai pengelola mekanisme ekspor satu pintu untuk tiga komoditas strategis: batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy. Ketiga komoditas ini menyumbang ekspor senilai US$66,13 miliar pada 2025 atau sekitar 23,4% dari total ekspor nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan kebijakan ini bertujuan memperbaiki tata kelola sumber daya alam dan memperkuat pengawasan transaksi ekspor. "Sehingga nilai ekspor yang tercatat menggambarkan transaksi yang sebenarnya," ujarnya. Pemerintah akan melakukan evaluasi setiap tiga bulan selama masa transisi sebelum implementasi penuh pada 1 Januari 2027.
Bersamaan dengan itu, pemerintah juga memberlakukan aturan baru terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) melalui PP Nomor 21 Tahun 2026. Eksportir nonmigas wajib menempatkan 100% DHE pada rekening khusus di dalam negeri selama minimal 12 bulan, sementara sektor migas hanya 30% selama tiga bulan. Konversi devisa ke rupiah dibatasi maksimal 50%, dan eksportir yang patuh akan mendapat insentif berupa tarif Pajak Penghasilan lebih rendah. Kebijakan ini diharapkan memperkuat cadangan devisa domestik dan meningkatkan manfaat ekspor bagi sistem keuangan nasional.
Ke depan, investor masih akan mencermati sejumlah rilis data makroekonomi utama serta dinamika geopolitik global, termasuk kelanjutan negosiasi AS-Iran. Pertanyaannya, akankah reli IHSG mampu bertahan di tengah ketidakpastian eksternal dan transisi kebijakan domestik yang masih perlu diuji efektivitasnya?


