Vasco Ruseimy Balas Abu Janda: Kacamata Miring yang Melihat Barbar
Baca dalam 60 detik
- Wagub Sumbar Vasco Ruseimy menanggapi ejekan Abu Janda yang menyebut masyarakat Minang barbar dengan sindiran tajam di Instagram.
- Vasco menilai tuduhan itu lahir dari perspektif sempit dan justru mencerminkan kondisi pengkritik, bukan realitas adat Minangkabau.
- Polemik ini menguji kedewasaan publik dalam menyikapi provokasi tanpa terjebak pada perang opini yang kontraproduktif.

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasco Ruseimy, akhirnya angkat bicara menanggapi pernyataan kontroversial pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda yang menuding masyarakat Minangkabau sebagai barbar. Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Sabtu (30/5), Vasco merespons dengan sindiran halus namun tajam, menyebut bahwa tuduhan semacam itu lahir dari kacamata yang miring dan retak.
Vasco mengaku hanya tersenyum dan tertawa dalam hati mendengar pernyataan Abu Janda. Baginya, penilaian serampangan terhadap daerah yang kaya akan adat, budaya, dan nilai agama seperti Sumatera Barat justru menggelitik. "Kadang yang melihat segala sesuatu tampak barbar bukan karena objeknya, tapi karena kacamatanya yang sedang miring dan retak. Apalagi sampai berpikir Sumbar barbar. Menurutmu, apanya yang miring dan retak?" kelakar Vasco dalam unggahannya.
Politikus Partai Gerindra itu menegaskan bahwa melabeli masyarakat Minangkabau sebagai barbar jelas mengabaikan fakta sejarah. Sumatera Barat, kata Vasco, adalah tanah yang melahirkan banyak tokoh bangsa, pemikir, dan pemimpin yang berkontribusi besar bagi kemerdekaan Indonesia. "Pernyataan yang menyebut Sumatera Barat sebagai barbar tentu bukan hanya keliru, tapi juga menyederhanakan sebuah peradaban yang dibangun dari nilai, adat, dan sejarah panjang," ujarnya.
Vasco juga mengingatkan kembali esensi masyarakat Minang yang memegang teguh falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Falsafah ini mengajarkan kedewasaan sosial, kemandirian lewat tradisi merantau, serta prinsip menghormati aturan di mana pun berada. "Kekuatan sejati masyarakat Sumbar bukanlah bersikap keras atau merasa paling benar, melainkan teguh dalam adat namun tetap santun dan hangat menerima siapa saja yang datang dengan niat baik," jelas Vasco.
Menurut Vasco, respons berlebihan justru akan memberikan panggung bagi pihak-pihak yang sengaja mencari perhatian lewat kontroversi demi menjaga relevansi di media sosial. Ia mengimbau masyarakat Sumbar untuk menyikapi polemik ini dengan kepala dingin dan tidak larut dalam provokasi. "Kalau ada yang menilai tanpa memahami, biarlah. Tidak semua ucapan harus dibalas panjang, tidak semua provokasi layak dijadikan perang. Kadang cukup dengan menunjukkan siapa kita sebenarnya," pungkasnya.
Polemik ini memunculkan pertanyaan: sejauh mana publik mampu membedakan antara kritik konstruktif dan provokasi murahan? Di tengah derasnya arus informasi, kedewasaan dalam merespons menjadi modal penting agar perdebatan tidak berujung pada perpecahan yang tidak perlu.



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7592436/original/084167000_1780375083-WhatsApp_Image_2026-06-02_at_11.35.40.jpeg)