Ruben Vargas: Dari Tukang Cat ke Panggung Piala Dunia, Swiss Andalkan Generasi Baru
Baca dalam 60 detik
- Ruben Vargas, winger Sevilla, menjadi salah satu motor baru Timnas Swiss di Piala Dunia 2026 setelah pensiunnya Shaqiri dan Sommer.
- Sebelum menjadi pesepak bola profesional, Vargas bekerja sebagai tukang cat selama tiga tahun untuk membiayai latihan di akademi Luzern.
- Swiss tergabung di Grup B bersama Kanada, Qatar, dan Bosnia; Vargas menekankan persatuan tim sebagai kunci melangkah lebih jauh dari babak 16 besar.
Ruben Vargas, winger Sevilla berusia 27 tahun, siap memikul tanggung jawab besar di Piala Dunia 2026 setelah dua legenda Swiss, Xherdan Shaqiri dan Yann Sommer, memutuskan pensiun dari tim nasional. Dalam wawancara eksklusif dengan FIFA, Vargas mengungkapkan ambisinya membawa 'Nati' melangkah lebih jauh dari babak 16 besar—pencapaian yang selalu menjadi tembok bagi Swiss dalam empat edisi terakhir.
Vargas bukanlah pemain yang lahir dari jalur mulus. Di usia 16 hingga 18 tahun, ia harus membagi waktu antara berlatih di akademi Luzern dan bekerja sebagai tukang cat. “Itu adalah salah satu periode paling berarti dalam hidup saya. Pekerjaan itu memberi motivasi besar untuk berjuang menjadi pemain sepak bola,” ujarnya. Setiap hari, ia bangun pagi untuk bekerja, lalu berlatih sore, pulang larut, dan tidur kelelahan. Pengalaman itu, menurutnya, membentuk mental baja yang kini ia bawa ke lapangan hijau.
Ketertarikan Vargas pada sepak bola dimulai sejak kecil, meski awalnya ia mencoba baseball—olahraga nasional di tanah kelahiran ayahnya, Republik Dominika. Namun, sepak bola segera mengambil alih. Ia mengidolakan Cristiano Ronaldo dan Neymar, serta mengagumi Shaqiri yang menjadi panutan banyak pemain muda Swiss. “Tidak ada panggung yang lebih besar dari Piala Dunia. Sebagai anak-anak, saya menonton turnamen ini di TV, dan sekarang teman-teman saya mengirim foto saya bermain di kompetisi itu,” kata Vargas.
Karier internasional Vargas dimulai pada 2019. Hingga kini, ia telah mencetak 11 gol dalam 60 penampilan bersama Swiss. Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, ia merasakan pahitnya tersingkir di babak 16 besar oleh Portugal. Namun, performa terbaiknya justru muncul di Euro 2024, saat ia mencetak satu gol dan satu assist dalam kemenangan 2-0 atas Italia di babak 16 besar. “Itu pertandingan yang tak akan pernah saya lupakan,” kenangnya. Sayang, langkah Swiss terhenti di perempat final oleh Inggris lewat adu penalti.
Di Piala Dunia 2026, Swiss tergabung di Grup B bersama Kanada, Qatar, dan Bosnia-Herzegovina. Banyak pihak menilai Swiss sebagai unggulan, namun Vargas enggan jemawa. “Di atas kertas mungkin kami favorit, tapi semua tim punya pemain top. Kami harus bekerja keras dan menjalani satu pertandingan pada satu waktu,” tegasnya. Ia juga menyadari bahwa absennya Shaqiri dan Sommer meninggalkan lubang besar, tetapi generasi baru seperti dirinya siap tampil. “Persatuan adalah kekuatan terbesar kami. Kami harus bermain sebagai satu kesatuan,” tambah Vargas.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Vargas mengingatkan pada perjuangan pemain-pemain Asia yang juga harus bekerja sampingan sebelum menembus level profesional. Di tengah gempuran berita transfer dan gaji fantastis, cerita Vargas menjadi pengingat bahwa kerja keras dan pengorbanan masih menjadi fondasi utama kesuksesan. Swiss, yang kerap dianggap tim 'kuda hitam' di turnamen besar, kini memiliki Vargas sebagai simbol semangat pantang menyerah. Mampukah ia membawa Swiss menembus perempat final untuk pertama kalinya sejak 1954? Atau akankah babak 16 besar kembali menjadi batas akhir? Piala Dunia 2026 akan menjawabnya.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7548437/original/004654300_1780324294-Arkhan_Kaka.jpg)
