IHSG Tertekan Rebalancing MSCI, BNBR Rights Issue Rp4,76 Triliun dan MERK Tebar Dividen Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup melemah tipis 0,05% ke 6.127,38 pada akhir pekan, tertekan aksi jual asing Rp8,52 triliun dan rebalancing MSCI yang memicu arus keluar dana.
- BNBR menggelar rights issue 89,92 miliar saham dengan harga Rp53/saham untuk menghimpun dana Rp4,76 triliun, mayoritas untuk melunasi utang anak usaha.
- MERK mengumumkan dividen Rp275/saham (yield 7,05%) dengan cum date 5 Juni, sementara DOID berhasil memangkas rugi bersih menjadi US$24,28 juta berkat efisiensi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan di tengah aksi jual investor asing yang masih deras, ditutup melemah 0,05% ke level 6.127,38 pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Pelemahan ini terjadi meski Wall Street menguat dan beberapa saham besar seperti BREN, BRPT, dan PTRO menjadi penopang indeks.
Tekanan terbesar justru datang dari saham perbankan dan telekomunikasi: BBCA, BBRI, dan TLKM. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih Rp8,36 triliun di pasar reguler dan Rp8,52 triliun di seluruh pasar. Secara sektoral, lima dari sebelas sektor ditutup merah, dengan sektor kesehatan menjadi yang terburuk (-1,49%), sementara sektor industri dasar memimpin penguatan (+2,65%).
Sentimen negatif domestik masih didominasi oleh efektifnya rebalancing MSCI yang berpotensi memperpanjang arus keluar dana asing. Pelaku pasar juga mencermati implementasi kebijakan sentralisasi ekspor dan kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang dapat menggerus likuiditas pasar. Indeks MSCI Indonesia sendiri turun 1,26%, meski ETF Indonesia (EIDO) menguat 1,02%.
Di tengah tekanan indeks, aksi korporasi PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menjadi perhatian. Perseroan mengantongi persetujuan pemegang saham untuk melakukan rights issue sebanyak 89,92 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp53 per saham, menargetkan dana segar sekitar Rp4,76 triliun. Sebagian besar dana akan disalurkan sebagai pinjaman kepada anak usaha PT Bakrie Toll Indonesia (BTI) untuk melunasi kewajiban kepada Hartman International Pte. Ltd. dan Bank Nobu. Sisanya dialokasikan untuk modal kerja PT Bakrie Construction, penyertaan modal pada PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) untuk pembangunan area istirahat Tol Cimanggis-Cibitung, serta kebutuhan operasional perseroan.
Rights issue ini memiliki rasio 14 HMETD untuk setiap 27 saham lama, dengan periode perdagangan HMETD pada 30 Juni hingga 13 Juli 2026. Dua pemegang saham utamaโPort Fraser International Ltd dan Fountain City Investment Ltdโtidak akan melaksanakan haknya dan mengalihkan HMETD kepada PT Bakrie Capital Indonesia (BCI). BCI bertindak sebagai pembeli siaga yang siap menyerap seluruh saham tidak terambil hingga maksimal 89,92 miliar saham. Konsekuensinya, pemegang saham yang tidak berpartisipasi berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga 34,15%.
Dari sisi kinerja emiten, PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) melaporkan pendapatan kuartal I-2026 sebesar US$318,18 juta, turun 9,57% year-on-year. Namun, efisiensi pada beban pokok pendapatan yang turun 15,45% berhasil memangkas rugi bersih menjadi US$24,28 juta dari sebelumnya US$70,40 juta. EBITDA hampir dua kali lipat menjadi US$28 juta dengan margin EBITDA meningkat dari 5% menjadi 11%.
Sementara itu, emiten farmasi PT Merck Tbk (MERK) mengumumkan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp275 per saham, total Rp123,2 miliar atau 51,51% laba bersih. Sepanjang 2025, pendapatan MERK naik 15,82% menjadi Rp1,20 triliun, dan laba bersih melonjak 58,95% menjadi Rp243,90 miliar. Dengan harga saham Rp3.900 pada 29 Mei, dividend yield mencapai 7,05%. Cum dividen dijadwalkan pada 5 Juni 2026, dan pembayaran pada 24 Juni 2026.
Bagi investor yang mencari peluang di tengah pelemahan IHSG, beberapa saham seperti AADI, BRPT, CUAN, KPIG, dan MBMA masuk dalam radar teknikal dengan level support dan resistance tertentu. Namun, perlu diingat bahwa rekomendasi tersebut bersifat informatif dan bukan ajakan bertransaksi. Keputusan investasi tetap bergantung pada profil risiko masing-masing.
Ke depan, pasar masih akan diuji oleh realisasi rebalancing MSCI dan implementasi kebijakan DHE. Apakah aksi jual asing akan mereda setelah periode rebalancing berakhir, atau justru tekanan berlanjut seiring ketidakpastian kebijakan domestik? Investor disarankan mencermati pergerakan nilai tukar rupiah dan data ekonomi global sebagai indikasi arah selanjutnya.


