Arthur Irawan Terkesima: Euforia Suporter Persik di Laga Kandang Terakhir Tak Tergantikan
Baca dalam 60 detik
- Arthur Irawan menyebut laga kandang terakhir Persik Kediri musim ini sebagai yang paling berkesan, meski timnya kalah 1-3 dari Persija.
- Penurunan animo penonton akibat pembatasan kuota dan pemindahan kandang ke Gresik menjadi sorotan mantan pemain Espanyol B tersebut.
- Ke depan, Persikmania diharapkan terus memadati stadion dan menunjukkan kreativitasnya di musim depan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7186588/original/060383000_1779983172-1000885336.jpg)
Euforia suporter Persik Kediri pada laga kandang terakhir musim 2025/2026 meninggalkan kesan mendalam bagi Arthur Irawan. Meski timnya harus menyerah 1-3 dari Persija Jakarta di Stadion Brawijaya, 23 Mei 2026, mantan kapten Persik itu justru terpukau oleh atmosfer yang diciptakan Persikmania dan penonton yang hadir.
"Ini laga kandang paling menakjubkan saya musim ini. Terima kasih kepada penonton dan Persikmania yang memenuhi stadion lagi. Saya kecewa dengan kekalahan itu, tapi semuanya ditebus dengan kemeriahan suasana di dalam stadion," ujar Arthur Irawan dalam pernyataannya.
Arthur, yang hijrah dari PSS ke Persik pada paruh kedua musim 2022/2023 dan kemudian membeli saham mayoritas klub, memutuskan gantung sepatu setelah satu setengah musim membela tim berjuluk Macan Putih. Meski singkat, ia merasakan ikatan emosional yang kuat dengan suporter.
"Momen seperti ini yang saya selalu kangen. Semoga musim depan stadion selalu penuh dan Persikmania beraksi dengan kreativitas mereka," tambahnya.
Namun, di balik euforia tersebut, Arthur menyoroti penurunan animo penonton secara drastis musim ini. Ia mengaitkan hal itu dengan pengurangan kuota penonton dan risk assessment untuk pertandingan rawan kericuhan. Akibatnya, Persik terpaksa memindahkan empat laga kandangnya ke Gresik.
"Musim ini kita punya kendala menggelar pertandingan kandang. Kita tak bisa main di Stadion Brawijaya empat kali. Jadwal pertandingan bukan di weekdays juga memengaruhi jumlah penonton. Termasuk pembatasan kuota dari pihak keamanan karena faktor risk assessment," jelas Arthur.
Fenomena ini tidak hanya dialami Persik. Beberapa klub BRI Super League lainnya juga menghadapi tantangan serupa, di mana regulasi keamanan dan jadwal pertandingan mempengaruhi kehadiran suporter. Di tengah upaya meningkatkan kualitas kompetisi, aspek keamanan dan kenyamanan penonton menjadi prioritas yang kadang berbenturan dengan animo publik.
Arthur, yang pernah menimba ilmu di Espanyol B, berharap musim depan Persikmania bisa kembali memadati stadion tanpa hambatan. Pertanyaan yang muncul: akankah pihak berwenang dan manajemen klub dapat menemukan keseimbangan antara keamanan dan euforia suporter? Atau justru pembatasan akan terus menjadi momok bagi atmosfer sepak bola Indonesia?



