Filosofi Tanpa Bintang: Dandri Dauri dan Rahasia Konsistensi Borneo FC
Baca dalam 60 detik
- Borneo FC finis sebagai runner-up BRI Super League 2025/2026 dan lolos ke ASEAN Club Championship, berkat fondasi yang dibangun manajer Dandri Dauri.
- Dandri menerapkan prinsip kekeluargaan dan meniadakan status bintang di tim, sebuah pendekatan yang ia yakini menjaga keharmonisan dan konsistensi.
- Perjalanan Dandri selama 24 tahun di sepak bola Kalimantan, dari Persisam Samarinda hingga mendirikan Borneo FC, menjadi modal utama filosofi manajemennya.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5304378/original/034830600_1754264751-ee4d32ed-f66d-4c59-b918-88cbf545ba55.jpeg)
Borneo FC mengakhiri musim BRI Super League 2025/2026 dengan prestasi yang tak bisa dianggap remeh. Meski harus puas di posisi kedua di bawah Persib Bandung, Pesut Etam berhasil menempatkan diri di atas klub-klub tradisional seperti PSM Makassar, Persebaya Surabaya, dan Persija Jakarta, sekaligus mengamankan tiket ke ASEAN Club Championship musim 2026/2027. Capaian ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan buah dari fondasi yang dibangun secara sabar oleh manajer Dandri Dauri.
Dandri Dauri bukanlah nama baru di pentas sepak bola nasional. Sebelum mendirikan Borneo FC bersama presiden klub Nabil Husien Said Amin, ia telah mengabdi selama hampir 24 tahun di sepak bola Kalimantan, dimulai dari Persisam Samarinda. Perjalanan panjang itu memberinya banyak pelajaran yang kemudian ia rangkum menjadi satu filosofi sederhana: kekeluargaan. Bagi Dandri, atmosfer keluarga bukan sekadar slogan, melainkan prinsip yang ia terapkan setiap hari dalam manajemen tim.
Menariknya, kecintaan Dandri pada sepak bola tidak dimulai sejak kecil. Ia mengaku bahwa setelah lulus sekolah, olahraga yang lebih dekat dengannya adalah bulu tangkis. Jalan menuju sepak bola terbuka melalui organisasi kepemudaan KNPI, di mana ia berinteraksi dengan tokoh-tokoh muda yang membidangi olahraga tersebut. Dari sana, ia direkrut oleh Persisam Putera Samarinda, dan ketika Persisam bertransformasi menjadi Bali United, Dandri bersama Nabil Husien memutuskan untuk mendirikan Borneo FC.
Prinsip utama yang dijaga Dandri adalah tidak adanya pemain bintang di Borneo FC. Di tengah industri sepak bola yang sering memuja individu, pendekatan ini mungkin terdengar kontroversial. Namun bagi Dandri, itulah cara terbaik untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan tim. "Di Borneo itu tidak ada bintang," tegasnya. "Itu sebuah kalimat jebakan dan bisa membuat semua jemawa." Ketika ditanya tentang fakta bahwa Borneo tetap memiliki pencetak gol terbanyak atau bek terbaik, Dandri menjelaskan bahwa status bintang hanya muncul di akhir proses, dan ia berusaha mencegah agar satu pemain tidak membuat yang lain iri.
Filosofi ini diperkuat dengan keyakinan bahwa setiap pemain adalah pemimpin. "Saya juga tidak mengatakan pemain leader. Di tim itu semua leader," pungkas Dandri. Pendekatan kolektif ini menjadi perekat tim dalam menghadapi kompetisi yang panjang. Bagi Dandri, setiap individu yang masuk ke lingkungan Borneo FC harus merasakan rumah, bukan sekadar tempat bekerja. Semangat kekeluargaan inilah yang ia yakini menjadi kunci konsistensi tim sepanjang musim.
Ke depan, tantangan Borneo FC akan semakin berat dengan partisipasi di ASEAN Club Championship. Pertanyaannya, mampukah filosofi "tanpa bintang" ini terus bertahan dan membawa prestasi lebih tinggi di kancah regional? Atau justru akan diuji oleh kebutuhan akan figur sentral di atas lapangan? Waktu yang akan menjawab, namun satu hal yang pasti: Dandri Dauri telah membuktikan bahwa pendekatan yang berbeda bisa menghasilkan konsistensi yang patut diperhitungkan.



