Indra Sjafri: Jangan Salahkan Siapa Pun, Saatnya Bersatu Bangun Sepak Bola Muda
Baca dalam 60 detik
- Indra Sjafri menilai kualitas pemain muda Indonesia saat ini lebih baik dibanding era sebelumnya, meski hasil turnamen mengecewakan.
- Ia mendorong evaluasi teknis menyeluruh oleh PSSI tanpa saling menyalahkan sebagai kunci perbaikan regenerasi.
- Timnas U-19 menghadapi tekanan besar di Piala AFF U-19 2026 setelah serangkaian kegagalan di level U-17.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5409606/original/006966900_1762862875-20251111BL_Latihan_Perdana_Timnas_Indonesia_U-22_untuk_SEA_Games_2025_22.jpg)
Mantan pelatih timnas kelompok umur, Indra Sjafri, angkat bicara di tengah hiruk-pikuk kegagalan regenerasi sepak bola Indonesia. Dalam diskusi daring bertajuk "Alasan di Balik Lemahnya Regenerasi Timnas Indonesia", ia justru mengajak semua pihak untuk tidak saling menyalahkan, melainkan bersatu dan bekerja keras membenahi pembinaan usia muda.
Tekanan besar tengah menghadang Timnas Indonesia U-19 yang akan berlaga di Piala AFF U-19 2026 di Medan, 1โ14 Juni mendatang. Bertengger di Grup A bersama Vietnam, Timor Leste, dan Myanmar, Garuda Muda wajib membawa pulang gelar setelah serangkaian hasil buruk di turnamen kelompok umur sebelumnya. Kegagalan Timnas U-17 di Piala Asia U-17 dan Piala AFF U-17 memantik keprihatinan luas, karena para pemain muda adalah aset utama masa depan tim senior.
Indra Sjafri, yang dua kali membawa Indonesia juara Piala AFF U-19 (2013 dan 2024), menolak narasi kemunduran. Ia justru melihat peningkatan kualitas individu pemain. "Kualitas tim yang main lawan Jepang dibandingkan dengan tim yang kualifikasi saya dengan umur yang sama tahun 2011 jauh, jauh. Kualitasnya lebih baik. Bagus yang sekarang," ujarnya. Menurutnya, membandingkan dengan Jepang yang sepak bolanya sudah maju pesat tidaklah adil.
Meski demikian, Indra tidak menutup mata terhadap fakta kegagalan. Ia menekankan pentingnya evaluasi jujur dan menyeluruh oleh tim teknis PSSI. "Pertama yang harus dilakukan di setiap event, evaluasi itu penting. Evaluasi yang benar-benar dilakukan oleh tim teknisnya PSSI. Masalahnya di mana?" katanya. Ia mengaku tidak mau menuding pihak tertentu, melainkan mendorong perbaikan kurikulum, peningkatan jumlah pelatih, dan kompetisi usia muda yang berkelanjutan.
Indra Sjafri mengingatkan bahwa kegagalan tidak boleh dijadikan alasan untuk putus asa. "Gagal iya. Kita harus jujur, gagal tidak juara Piala AFF, tidak lolos Piala Dunia. Tetapi secara kualitas anak, kualitas pemain, lebih baik dari dulu. Berarti apa? Apa yang kita sudah kerjakan dengan memperbaiki kualitas kurikulum, memperbanyak pelatih, membuat kompetisi-kompetisi usia muda setiap kelompok umur diperbaiki terus," paparnya. Ia optimistis dengan arah yang sudah berjalan, kualitas sepak bola Indonesia akan terus meningkat.
Pernyataan Indra Sjafri menjadi penyeimbang di tengah kritik tajam terhadap PSSI dan pelatih Nova Arianto. Alih-alih mencari kambing hitam, ia mengajak semua elemenโpengurus, pelatih, pemain, dan publikโuntuk bersatu. "Saya yakin, nanti kualitas kita akan lebih baik. Oleh sebab itu tidak ada jalan lain. Kerja keras dan bersatu. Jangan kita saling menyalahkan," pungkasnya.
Ke depan, keberhasilan Timnas U-19 di Piala AFF U-19 2026 akan menjadi batu uji apakah evaluasi dan kerja keras yang didorong Indra Sjafri benar-benar diimplementasikan. Akankah Garuda Muda mampu menjawab keraguan publik dan membuktikan bahwa pembinaan usia muda Indonesia berada di jalur yang tepat?



