Kroenke Akui Pandemi Beri Arteta Ruang Bangkitkan Arsenal dari Tidur Panjang
Baca dalam 60 detik
- Josh Kroenke menilai pertandingan tanpa penonton selama pandemi memberi Mikel Arteta keleluasaan membangun tim tanpa tekanan suporter.
- Arsenal akhirnya merebut gelar Premier League pertama dalam 22 tahun setelah melalui masa transisi berat pasca-Wenger.
- Kroenke menegaskan klub akan terus memperkuat skuad demi mempertahankan posisi puncak dan bersaing di Liga Champions.

Mikel Arteta berhasil membawa Arsenal kembali ke puncak Premier League setelah 22 tahun, dan Josh Kroenke, salah satu pemilik klub, mengakui bahwa pandemi Covid-19 yang memaksa pertandingan digelar tanpa penonton justru memberi pelatih asal Spanyol itu "ruang" untuk membangun fondasi tim tanpa tekanan langsung dari suporter.
Dalam wawancara eksklusif dengan BBC Sport, Kroenke mengungkapkan bahwa masa-masa sulit di awal kepemimpinan Arteta—termasuk dua kali finis di peringkat kedelapan—tidak akan mungkin terlewati jika stadion selalu penuh. "Ada sesuatu tentang Mikel yang memiliki sedikit 'ruang' selama Covid, ketika tidak ada penggemar di sekitar," ujarnya. "Melihat ke belakang, saya pikir itu mungkin sedikit keuntungan."
Kroenke, yang bersama ayahnya Stan mengambil alih penuh Arsenal pada 2018, mengakui bahwa transisi setelah kepergian Arsene Wenger sangat berat. Selain mengganti manajer legendaris, klub juga harus menyesuaikan diri dengan kepergian CEO Ivan Gazidis dan proses privatisasi. "Terlalu banyak perubahan dalam waktu yang terlalu singkat," katanya. Namun, kegagalan di final Liga Europa 2019—kekalahan 4-1 dari Chelsea di Baku—menjadi titik balik. Kroenke mengaku saat itu ia dan ayahnya harus "menerima" posisi klub dan siap mundur selangkah untuk maju.
Salah satu momen penting dalam perjalanan kebangkitan Arsenal adalah keputusan merekrut William Saliba. Setelah kekalahan di Baku, Kroenke bertanya kepada Per Mertesacker, manajer akademi saat itu, tentang bek muda Eropa terbaik. Tanpa ragu, Mertesacker menyebut Saliba. Bek asal Prancis itu kini menjadi andalan di lini belakang dan bagian integral dari skuad juara.
Kroenke juga menyinggung perubahan budaya di klub. Ia menyebut Arsenal sebagai "raksasa tidur" yang kini terbangun, terutama di era media sosial. "Dulu hampir seperti Anda harus sembunyi-sembunyi menjadi penggemar Arsenal," katanya. Kini, dengan gelar Premier League dan tiket final Liga Champions melawan Paris Saint-Germain, kebanggaan itu kembali.
Namun, Kroenke menegaskan bahwa kesuksesan bukanlah akhir. "Matahari akan tetap terbit keesokan harinya. Anda harus kembali bekerja," ujarnya. Arsenal berencana memperkuat skuad pada bursa transfer musim panas untuk "tetap berada di puncak gunung" dan mengantisipasi persaingan ketat dari tim-tim besar Liga Inggris.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Arsenal menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kesabaran dalam membangun tim. Di tengah budaya instan yang kerap mendominasi, perjalanan Arteta membuktikan bahwa fondasi yang kokoh—meski harus melewati masa sulit—pada akhirnya membuahkan hasil. Pertanyaan besarnya: mampukah Arsenal mempertahankan konsistensi dan bersaing di level tertinggi Eropa dalam jangka panjang?



