Bukayo Saka: Tekanan Publik Tak Ada Artinya Tanpa Ekspektasi Diri Sendiri
Baca dalam 60 detik
- Penyerang Arsenal itu menjadikan kegagalan di tiga turnamen besar sebagai bahan bakar untuk merebut Piala Dunia pertama Inggris dalam 60 tahun.
- Saka menegaskan bahwa tekanan dari luar tidak berarti jika setiap pemain sudah memiliki standar dan target internal yang jelas.
- Dengan skuad yang dipenuhi pemain berpengalaman dan pelatih pemenang Thomas Tuchel, Inggris optimistis mengakhiri puasa gelar.
Bukayo Saka tidak gentar menghadapi beban sejarah yang menyelimuti tim nasional Inggris. Pemain sayap Arsenal itu justru melihat tekanan sebagai bagian dari paket yang harus diterima untuk mewujudkan mimpi merebut trofi Piala Dunia pertama sejak 1966. Menurutnya, kunci utama bukanlah membungkam suara dari luar, melainkan memastikan bahwa ekspektasi dari dalam diri sendiri jauh lebih besar.
Dalam wawancara eksklusif dengan FIFA, Saka mengakui bahwa publik Inggris—dari media hingga 58 juta pendukung—memang menuntut kesempurnaan. Namun, ia menolak larut dalam hiruk-pikuk itu. “Kami tahu ada ekspektasi, tapi yang terpenting adalah kami memiliki ekspektasi terhadap diri sendiri,” ujarnya. “Setelah itu, tidak banyak hal lain yang bisa memberi tekanan berarti. Kami hanya memblokir kebisingan dan fokus pada apa yang ingin kami capai.”
Pendekatan mental ini lahir dari pengalaman pahit yang justru membakar semangat. Saka telah merasakan tiga turnamen besar: final EURO 2020 yang hilang melalui adu penalti melawan Italia, perempat final Piala Dunia 2022 yang kandas tipis dari Prancis, dan final EURO 2024 yang direbut Spanyol di menit akhir. Alih-alih patah arang, ia memilih menjadikan setiap kegagalan sebagai pelajaran berharga. “Kami selalu percaya bisa menang dan nyaris berhasil. Itu menjadi motivasi untuk terus mendorong diri,” tegasnya.
Kekuatan Inggris saat ini tidak hanya terletak pada mentalitas, tetapi juga komposisi skuad yang unik. Saka melihat perpaduan antara pemain bintang di puncak karier, tenaga muda yang haus pengalaman, dan segelintir pemenang trofi. Harry Kane baru saja meraih double bersama Bayern Munich, Marcus Rashford menjadi juara La Liga bersama Barcelona, sementara trio Aston Villa—Ollie Watkins, Morgan Rogers, dan Ezri Konsa—mengecap sukses di Europa League. “Saya melihat kekuatan di mana-mana, juga rasa lapar dan gairah untuk menang. Kombinasi yang seimbang,” kata Saka.
Kehadiran Thomas Tuchel sebagai pelatih juga menjadi nilai tambah. Pelatih asal Jerman itu dikenal sebagai sosok pemenang, terbukti dari kariernya yang gemilang di level klub. Saka menilai Tuchel sangat jelas dalam menyampaikan visi dan tuntutan. “Dia adalah pemenang, dan tim ini juga ingin menang. Kami cocok dengannya,” ungkap pemain berusia 24 tahun itu. Rekor kualifikasi yang sempurna—menang di semua laga tanpa kebobolan—menjadi bukti awal bahwa racikan Tuchel mulai bekerja.
Bagi Saka, impian terbesarnya adalah mengikuti jejak generasi 1966 yang dipimpin Bobby Moore dan Geoff Hurst. “Mereka menetapkan standar. Kami ingin mengikuti langkah mereka dan mencapai apa yang telah mereka raih. Itulah mimpi kami,” ujarnya. Dengan modal pengalaman, kedalaman skuad, dan keyakinan diri yang kokoh, Inggris datang ke Amerika Utara bukan sekadar untuk berpartisipasi. Pertanyaan yang tersisa: apakah kali ini mereka mampu mengubah sejarah, atau kembali pulang dengan tangan hampa?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5530038/original/071918600_1773390026-Stadion_Teladan_Medan_Diskominfo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4904528/original/032818300_1722272413-20240729BL_Final_Piala_AFF_U-19_2024_45.JPG)