Golkar Santai Respons Lagu AI 'Mas Bahlil Ganteng': Bukti Kedekatan dengan Publik
Baca dalam 60 detik
- Lagu 'Mas Bahlil Ganteng' yang dibuat netizen dengan AI viral di media sosial, dan Golkar menanggapinya sebagai hiburan rakyat tanpa masalah.
- Sekjen Golkar Muhammad Sarmuji menilai fenomena ini menunjukkan apresiasi publik terhadap kerja keras Bahlil, bukan sarkasme atau body shaming.
- Sikap santai Golkar mencerminkan strategi politik yang memanfaatkan kreativitas digital untuk memperkuat citra positif partai di mata publik.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5701171/original/017326300_1778581567-IMG_3498.jpeg)
Partai Golkar memilih bersikap santai menghadapi viralnya lagu berjudul 'Mas Bahlil Ganteng' yang diciptakan netizen menggunakan kecerdasan buatan. Sekretaris Jenderal Golkar, Muhammad Sarmuji, menegaskan bahwa partainya tidak merasa terganggu dengan kreativitas digital tersebut, melainkan melihatnya sebagai bentuk hiburan rakyat yang justru mengindikasikan kedekatan emosional publik dengan Ketua Umum mereka, Bahlil Lahadalia.
Lagu yang kerap disingkat MBG itu muncul dari unggahan netizen yang merangkai komentar-komentar unik di media sosial menjadi sebuah aransemen musik berbasis AI. Dalam hitungan hari, lagu tersebut menyebar luas di berbagai platform, memicu perdebatan apakah liriknya mengandung unsur ejekan atau sarkasme. Namun, Sarmuji dengan tegas membantah anggapan tersebut. "Dalam konteks 'Mas Bahlil Ganteng' di lagu itu, saya tidak merasakan sarkastis, bahkan sebagai sanepan atau sindiran halus sekalipun," ujarnya di Jakarta, Kamis (28/5/2026).
Menurut Sarmuji, diksi 'ganteng' yang disematkan netizen sejalan dengan rekam jejak kepemimpinan Bahlil yang dinilai cekatan. "Bagi saya, kerja-kerja Pak Bahlil selama ini bisa diwakilkan dengan kata keren, cakep, bagus, atau semisalnya," tambahnya. Ia menekankan bahwa fenomena ini merupakan apresiasi spontan dari masyarakat terhadap performa Bahlil sebagai menteri, bukan sekadar guyonan tanpa makna.
Fenomena lagu AI yang memuji figur publik ini bukan yang pertama kali terjadi di Indonesia. Sebelumnya, sejumlah tokoh politik juga menjadi sasaran kreativitas serupa, namun respons partai politik kerap beragam. Sikap Golkar yang santai dan justru memuji kreativitas netizen dinilai sebagai langkah cerdas untuk memperkuat citra partai di mata publik, terutama generasi muda yang akrab dengan budaya digital. "Enggak masalah. Bagi Golkar kalau rakyat senang, Golkar juga senang," ujar Sarmuji, menegaskan bahwa partainya tidak alergi terhadap kritik atau humor yang berkembang di masyarakat.
Bagi pembaca di Indonesia, fenomena ini mengingatkan bahwa politik dan hiburan semakin sulit dipisahkan di era digital. Respons Golkar bisa menjadi contoh bagaimana partai politik memanfaatkan tren viral untuk membangun kedekatan emosional, alih-alih bersikap defensif. Namun, pertanyaan yang muncul kemudian: akankah strategi ini berlanjut jika suatu saat kreativitas netizen berubah menjadi kritik yang lebih tajam?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7494149/original/018397000_1780266740-Unggahann_Prabowo.jpeg)

