Sabalenka vs Osaka di Sesi Malam: Akhir Dominasi Pria di Roland Garros?
Baca dalam 60 detik
- Pertandingan Aryna Sabalenka melawan Naomi Osaka menjadi laga putri pertama yang masuk jadwal malam Prancis Terbuka sejak 2023, memutus dominasi 32 sesi malam sebelumnya yang semuanya milik putra.
- Keputusan ini muncul setelah tekanan dari WTA dan kritik pemain seperti Jessica Pegula serta Ons Jabeur yang menuding panitia kurang memberi ruang bagi tenis putri.
- Meski disambut positif, partai ini membawa ekspektasi besar: jika berakhir cepat, bisa menjadi bumerang bagi kesetaraan gender di turnamen Grand Slam tersebut.

Untuk pertama kalinya sejak 2023, laga putri akan menghiasi sesi malam Prancis Terbuka. Partai keempat antara Aryna Sabalenka dan Naomi Osaka, Senin (2/6) waktu setempat, mematahkan rangkaian 32 pertandingan malam berturut-turut yang semuanya diisi oleh pemain pria—sebuah fenomena yang memicu perdebatan panjang soal kesetaraan gender di turnamen Grand Slam ini.
Sejak sistem satu pertandingan malam diperkenalkan pada 2021, hanya empat dari 60 slot perdana di Court Philippe Chatrier yang melibatkan petenis putri. Kini, dengan tambahan satu slot, totalnya menjadi lima. Fakta ini mencuat di tengah kritik yang terus mengemuka, terutama setelah petinggi WTA, Valerie Camillo, secara langsung menemui direktur turnamen Amelie Mauresmo pekan ini untuk meminta penjelasan.
Sabalenka, unggulan pertama asal Belarusia, tengah memburu gelar perdana di Roland Garros untuk menambah koleksi empat trofi Grand Slam-nya. Sementara itu, Osaka—petenis Jepang unggulan ke-16—juga memiliki empat gelar mayor. Pertemuan dua pemain bertabur prestasi ini disebut-sebut sebagai “pertandingan popcorn” yang layak menyedot perhatian penonton.
Osaka sendiri mengaku tidak pernah mengasosiasikan Prancis Terbuka dengan pertandingan malam. “Saya cukup santai soal jadwal,” ujarnya, Sabtu (31/5). Namun, ia menilai slot malam memang diperuntukkan bagi laga-laga spektakuler. Di sisi lain, kritik pedas datang dari Jessica Pegula yang merasa seperti “membenturkan kepala ke tembok”, serta Ons Jabeur yang mempertanyakan apakah pengambil keputusan “memiliki anak perempuan”.
Direktur turnamen Amelie Mauresmo—mantan petenis nomor satu dunia—kembali beralasan bahwa laga putri berisiko berlangsung terlalu cepat, sehingga kurang cocok untuk tayangan malam yang mahal. Namun, argumen itu makin sulit dipertahankan. WTA menilai performa petenis putri dalam beberapa tahun terakhir justru menyuguhkan kompetisi paling dinamis dan menghibur.
Bagi Indonesia, isu ini relevan mengingat semakin populernya tenis di tanah air. Banyak penggemar tenis Indonesia yang mengikuti turnamen Grand Slam melalui siaran langsung, dan kesetaraan jadwal menjadi indikator penting dalam profesionalisme olahraga. Jika Prancis Terbuka mampu mengakomodasi laga putri di jam tayang utama, hal itu bisa menjadi preseden bagi turnamen lain untuk lebih adil.
Keputusan memilih Sabalenka vs Osaka memang tak terelakkan. Namun, ada risiko besar: jika pertandingan berakhir cepat dalam dua set, sebagian pihak bisa menjadikannya senjata untuk meremehkan tenis putri. Situasi ini diperparah oleh fakta bahwa sesi malam tahun ini kehilangan Jannik Sinner yang sudah tersingkir, dan pertandingan “popcorn” seperti Djokovic vs Fonseca justru dijadwalkan siang hari.
Pertanyaannya kini: apakah Roland Garros akan konsisten memberi ruang bagi petenis putri di masa depan, atau justru kembali ke kebiasaan lama setelah sorotan mereda?



