Rangnick Siapkan Syarat Keras untuk AC Milan: Kuasa Penuh di Area Teknis
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Austria Ralf Rangnick menginginkan kewenangan penuh dalam restrukturisasi area teknis AC Milan, termasuk memilih pelatih baru, namun baru akan bergabung setelah Piala Dunia 2026.
- Pertemuan dengan pemilik Gerry Cardinale dan Zlatan Ibrahimovic di Wina membahas visi Rangnick, yang menuntut kendali atas rekrutmen staf dan departemen pemantauan pemain.
- Keputusan final dijadwalkan dalam beberapa hari ke depan, dengan Rangnick menegaskan bahwa kontraknya saat ini hanya bersama Federasi Austria hingga Piala Dunia usai.

Ralf Rangnick, pelatih tim nasional Austria, mematok syarat besar untuk menerima tawaran menjadi kepala area teknis AC Milan: kewenangan penuh dalam merombak struktur kepelatihan dan pemantauan pemain. Pria 67 tahun itu baru akan bersedia pindah ke San Siro setelah Piala Dunia 2026 usai, demikian laporan La Gazzetta dello Sport.
Pertemuan antara Rangnick, pemilik klub Gerry Cardinale, dan penasihat senior Zlatan Ibrahimovic berlangsung di Wina pada Selasa lalu. Dalam pertemuan tersebut, Rangnick memaparkan visinya untuk membangun kembali Milanello—pusat latihan AC Milan—dengan kendali mutlak, termasuk memilih pelatih kepala dan tim scouting. Langkah ini menjadi krusial setelah Milan gagal lolos ke Liga Champions musim depan dan memecat pelatih Massimiliano Allegri beserta jajaran direktur utama seperti Igli Tare, Giorgio Furlani, dan Geoffrey Moncada.
Bagi Milan, kehadiran Rangnick bukanlah wacana baru. Pada 2019, ia nyaris menjadi pelatih kepala sebelum akhirnya batal. Kini, dengan status sebagai arsitek kebangkitan sepak bola Austria—membawa timnya lolos ke Piala Dunia 2026—nama Rangnick kembali menjadi primadona. Namun, ia menuntut jaminan bahwa proyek teknis sepenuhnya berada di tangannya, tanpa intervensi dari manajemen klub.
Rangnick menegaskan bahwa satu-satunya pihak yang sedang ia ajak bicara soal kontrak adalah Federasi Austria, yang masa baktinya berakhir setelah Piala Dunia. “Mungkin semua orang melihat ada hal luar biasa terjadi di Milan akhir pekan lalu,” ujarnya dalam acara amal, Rabu, merujuk pada gelombang pemecatan di klub. Ia enggan berkomentar lebih jauh, namun sinyalemen bahwa ia terbuka untuk negosiasi pasca-turnamen sudah jelas.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perkembangan ini menarik karena Rangnick dikenal sebagai salah satu pelatih dengan pengaruh besar di Eropa. Gaya bermainnya yang agresif dan fokus pada pengembangan pemain muda bisa menjadi inspirasi bagi klub-klub di Liga 1 yang tengah berbenah. Selain itu, keputusan Milan dalam beberapa hari ke depan akan menentukan arah kompetisi Serie A musim depan, yang kerap menjadi tontonan utama pencinta sepak bola Tanah Air.
Cardinale dan Ibrahimovic kini tengah mempertimbangkan proposal Rangnick. Mereka ingin menghindari tekanan berlebih pada pelatih Austria jelang Piala Dunia, sehingga keputusan final dijadwalkan dalam waktu dekat. Jika kesepakatan tercapai, Milan akan memiliki figur sentral yang mampu merombak total budaya klub—sebuah langkah berani yang bisa membawa Rossoneri kembali ke papan atas Eropa. Pertanyaannya, akankah Cardinale memberikan kebebasan penuh yang diminta Rangnick, atau justru memilih figur yang lebih mudah dikendalikan?



