Pedri: Dari Tegueste ke Panggung Dunia, Kisah Gelandung Jenius Spanyol
Baca dalam 60 detik
- Pedri, gelandang Barcelona berusia 23 tahun, akan tampil di Piala Dunia keduanya setelah mencuri perhatian sejak debut di Las Palmas.
- Pelatih dan kapten lamanya mengungkap bakat luar biasa Pedri yang sudah terlihat sejak usia 16 tahun, termasuk kemampuan fisik dan teknik yang matang.
- Perjalanan Pedri dari klub kecil di Tenerife hingga menjadi pilar Spanyol dan Barcelona menginspirasi banyak pemain muda di Indonesia.
Pada usia 23 tahun, Pedri Gonzalez sudah memantapkan diri sebagai salah satu gelandang terbaik dunia dan akan menjadi andalan Spanyol di Piala Dunia 2026. Namun, perjalanannya menuju puncak dimulai dari lapangan kecil di Tegueste, sebuah kota berpenduduk 10.000 jiwa di Pulau Tenerife.
Pepe Mel, pelatih yang memberi Pedri debut profesional di Las Palmas, mengingat dengan jelas potensi remaja itu. "Tidak pernah ada keraguan bahwa ia memiliki masa depan cemerlang," kata Mel kepada FIFA. "Kami mendengar tentang seorang anak dengan potensi luar biasa yang sudah melampaui semua tim yang ia bela. Saat melihatnya, kami berkata, 'Jika ia bisa melakukan ini secara profesional, maka kami memiliki seorang jenius.'"
Kapten Las Palmas saat itu, Aythami Artiles, bahkan menjadi seperti ayah kedua bagi Pedri. Setiap pagi, Aythami menjemput Pedri dari asrama akademi, mengantar anak-anaknya ke sekolah, lalu bersama-sama menuju tempat latihan. "Ia seperti anak bagiku," kenang Aythami. "Ia anak 16 tahun yang normal, tapi saat di lapangan, ceritanya benar-benar berbeda."
Kekaguman Aythami semakin menjadi saat menyaksikan latihan perdana Pedri. "Kami bertanya-tanya dari mana ia berasal. Ia bisa mengontrol bola dengan kedua kaki, berputar ke segala arah, menembak, mengalihkan serangan, dan melindungi bola. Tak ada yang bisa merebutnya. Pada usia 16, ia sudah melakukan hal yang ia lakukan sekarang. Sungguh menakjubkan," ujarnya. "Saat tes ketahanan, ia menjadi yang teratas. Orang bilang ia meningkat secara defensif, tapi ia sudah seperti itu sejak awal."
Meskipun ada kekhawatiran di internal klub bahwa mempromosikan Pedri terlalu cepat berisiko, Mel tetap membawanya ke pemusatan latihan pramusim tim utama di Marbella. "Beberapa orang di klub berpikir itu terlalu cepat," kata Mel, yang kini menjadi direktur olahraga Ittihad Tanger. "Tapi saya yakin sejak awal. Suatu hari, saya bilang ke presiden klub, 'Anak ini akan menjadi jutawan dan ia belum mengetahuinya.'"
Keyakinan Mel terbukti. Setelah hanya tiga pertandingan di divisi dua, Barcelona mengamankan tanda tangan Pedri. Namun, momen paling berkesan mungkin terjadi saat Las Palmas menghadapi Sporting Gijon. Tim sedang dalam tren buruk, dan di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Pedri berkata pada Aythami, "Tenang, hari ini saya akan mencetak gol dan kita akan menang." Las Palmas menang 1-0, dan Pedri mencetak gol kemenangan dari luar kotak penalti—gol profesional pertamanya.
Kisah Pedri juga sarat dengan ikatan keluarga. Pada 1994, delapan tahun sebelum ia lahir, kakeknya mendirikan klub pendukung Barcelona di Tenerife yang berbasis di restoran keluarga, Tasca Fernando. Ayahnya kemudian menjadi presiden klub tersebut, yang kini berganti nama menjadi Pena Barcelonista de Tenerife – Pedri Gonzalez. "Bahkan piring dan paella di rumah kami bermotif Barça," kata Pedri dalam sebuah wawancara.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perjalanan Pedri memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya pembinaan usia dini dan keberanian memberikan kesempatan kepada talenta muda. Di tengah gempuran pemain asing di liga domestik, kisah Pedri mengingatkan bahwa bakat lokal bisa bersaing di level tertinggi jika dikelola dengan baik. Pertanyaannya, mampukah Indonesia meniru model pengembangan bakat seperti yang dilakukan Las Palmas dan Barcelona?



