WMO Peringatkan Suhu Global Akan Bertahan di Level Rekor dalam Lima Tahun ke Depan
Baca dalam 60 detik
- Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memproyeksikan suhu rata-rata global 2026-2030 akan 1,3-1,9°C di atas level pra-industri, dengan peluang 91% satu tahun melebihi ambang 1,5°C.
- Fenomena El Nino diprediksi memicu rekor baru pada 2027, sementara pemanasan di Arktik semakin mempercepat pencairan es laut.
- Bagi Indonesia, ancaman gelombang panas ekstrem dan perubahan pola musim kian nyata, menuntut kesiapsiagaan adaptasi iklim yang lebih serius.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa suhu rata-rata global diperkirakan akan tetap mendekati rekor tertinggi dalam lima tahun ke depan, menegaskan tren pemanasan jangka panjang yang terus berlanjut. Dalam laporan terbaru yang dirilis Kamis (27/5) di Jenewa, badan PBB itu menyebutkan bahwa periode 2026-2030 akan menjadi salah satu yang terpanas dalam catatan sejarah.
Menurut proyeksi yang disusun oleh Badan Meteorologi Inggris (Met Office) bersama lembaga prakiraan iklim global, suhu tahunan rata-rata antara 2026 dan 2030 diperkirakan berada pada kisaran 1,3 hingga 1,9 derajat Celsius di atas level pra-industri. Laporan itu juga menyebutkan adanya peluang 91 persen bahwa setidaknya satu tahun dalam rentang tersebut akan melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius—angka yang menjadi target utama Perjanjian Paris. Lebih lanjut, kemungkinan rekor suhu tertinggi yang dicetak pada 2024 akan terpecahkan mencapai 86 persen.
Fenomena El Nino—di mana suhu permukaan laut di Pasifik ekuator bagian tengah dan timur meningkat—menjadi salah satu faktor utama yang mendorong potensi rekor baru, terutama pada 2027. Sementara itu, pemanasan global yang terus berlangsung telah menunjukkan dampak nyata di berbagai belahan dunia. Sebagai contoh, suhu di London mencapai 35,1 derajat Celsius pada Selasa lalu, memecahkan rekor hari terpanas di Inggris untuk bulan Mei.
Laporan WMO juga menyoroti bahwa pemanasan terjadi sangat signifikan di kawasan Arktik. Es laut diperkirakan akan terus menyusut di sejumlah wilayah seperti Laut Barents, Laut Bering, dan Laut Okhotsk. Kondisi ini tidak hanya mengancam ekosistem kutub, tetapi juga berkontribusi pada perubahan pola cuaca global yang ekstrem.
Bagi Indonesia, proyeksi ini membawa implikasi serius. Sebagai negara kepulauan tropis, Indonesia rentan terhadap dampak perubahan iklim seperti kenaikan permukaan laut, gelombang panas, dan perubahan pola curah hujan yang dapat mengganggu sektor pertanian, perikanan, serta ketersediaan air bersih. Pemerintah dan masyarakat perlu meningkatkan langkah adaptasi, termasuk penguatan sistem peringatan dini cuaca ekstrem dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Meskipun melampaui ambang 1,5°C dalam satu tahun tidak berarti target Perjanjian Paris mustahil tercapai, laporan ini menegaskan bahwa rekor suhu ekstrem semakin sering terjadi. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah upaya mitigasi global saat ini cukup untuk mencegah dampak yang lebih parah di masa depan?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7186959/original/042884900_1779983531-IMG_0027.jpeg)


