Patung Messi Raksasa 21 Meter di India Goyang Ditiup Angin, Segera Dibongkar
Baca dalam 60 detik
- Patung Lionel Messi setinggi 21 meter di Kolkata dinyatakan tidak aman setelah inspeksi menemukan struktur goyang saat angin kencang.
- Pemerintah setempat memerintahkan pembongkaran dan pemindahan segera, meski lokasi di dekat jalan raya dan stasiun bawah tanah mempersulit proses.
- Patung fiberglass dan besi itu dirakit oleh 45 pekerja selama 27 hari, dan kini dicari lokasi alternatif untuk pemasangan kembali.

Patung raksasa Lionel Messi setinggi 21 meter (70 kaki) yang berdiri di Kolkata, India, harus segera diturunkan setelah inspeksi teknik mengungkapkan struktur bangunan tersebut bergoyang saat diterpa angin. Temuan ini memicu kekhawatiran keselamatan publik, mengingat lokasi patung berada tepat di tepi jalan raya yang padat dan dekat dengan jalur bawah tanah.
Monumen yang didirikan pada Desember lalu dalam rangkaian tur 'GOAT' (Greatest of All Time) Messi di India itu, menurut laporan media lokal, telah diperiksa oleh insinyur dari Departemen Pekerjaan Umum (PWD) pada Senin lalu. Pemeriksaan dilakukan setelah banyak warga sekitar mengeluhkan kondisi patung yang tampak tidak stabil. Hasilnya, integritas struktural patung dinilai sangat buruk sehingga pembongkaran segera menjadi satu-satunya opsi.
Anggota legislatif Benggala Barat, Sharadwat Mukherjee, mengonfirmasi bahwa patung ikon sepak bola Argentina itu dinyatakan tidak aman. โKami melihat patung itu bergoyang tertiup angin,โ ujarnya. Mukherjee menambahkan, meskipun lokasi yang berdekatan dengan jalan sibuk dan stasiun bawah tanah membuat proses pembongkaran tidak mudah, pihaknya bertekad menyingkirkan patung tersebut secepat mungkin.
Sementara menunggu pembongkaran, patung tersebut telah diamankan dengan tali nilon berkekuatan tinggi, dan barikade dipasang untuk menjaga jarak aman dari lalu lintas dan pejalan kaki. Otoritas setempat juga tengah mencari lokasi alternatif untuk memindahkan monumen ini. Patung Messi ini diresmikan secara virtual oleh sang pemain pada Desember lalu melalui layar video, di mana ia menekan tombol remot. Namun, kunjungannya ke Kolkata saat itu sempat diwarnai insiden kekerasan di Stadion Salt Lake.
Fenomena patung raksasa yang gagal secara struktural ini mengingatkan pada sejumlah proyek serupa di berbagai negara yang kerap menghadapi masalah teknis. Di Indonesia sendiri, tren pembangunan patung atau monumen ikonik untuk menarik wisatawan atau menghormati tokoh juga marak, namun sering kali terkendala aspek keselamatan dan perizinan. Kasus di Kolkata bisa menjadi pelajaran bagi pemerintah daerah di Indonesia untuk lebih ketat dalam pengawasan konstruksi monumen publik, terutama yang berukuran besar dan berada di lokasi strategis.
Ke depan, nasib patung Messi ini masih belum jelas. Apakah akan dipindahkan ke tempat yang lebih aman atau justru dibongkar total? Pertanyaan ini masih menggantung, sembari otoritas Kolkata berupaya menyelesaikan masalah teknis dan administratif. Yang pasti, kegagalan struktur ini menjadi pengingat bahwa ambisi artistik dan penghormatan kepada idola harus tetap diimbangi dengan standar keselamatan yang ketat.



