MTQ Internasional Pemuda Masjid Dunia di Istiqlal: Simbol Islam Moderat dan Persatuan Global
Baca dalam 60 detik
- MTQ Internasional Pemuda Masjid Dunia di Masjid Istiqlal diikuti sembilan negara dan 26 provinsi Indonesia, menegaskan posisi Indonesia sebagai pusat Islam moderat.
- Ajang ini didedikasikan untuk mendoakan jemaah haji dunia, sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah antarbangsa melalui kompetisi tilawah bergengsi.
- Penyelenggaraan oleh ormas pemuda mendapat apresiasi pemerintah dan sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo dalam memperkuat harmoni sosial dan diplomasi budaya.

Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Internasional Pemuda Masjid Dunia yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada 23–25 Mei 2026, menjadi panggung bagi sembilan negara untuk memperkuat syiar Islam moderat dan persatuan global di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat. Ajang ini diikuti peserta dari China, Palestina, dan sejumlah negara ASEAN, serta qori dan qoriah terbaik dari 26 provinsi Indonesia, menjadikannya salah satu pertemuan pemuda muslim paling representatif tahun ini.
Ketua DPD RI, Sultan Bachtiar Najamudin, menegaskan bahwa seluruh peserta adalah juara hasil seleksi ketat di negara masing-masing, dipilih oleh majelis ulama setempat. “Ini bukti bahwa Indonesia mampu menjadi simbol persatuan dan harmoni di tengah dunia yang terus bergejolak,” ujarnya. Menurut Sultan, penyelenggaraan MTQ ini tidak hanya soal kompetisi, tetapi juga tentang memperlihatkan wajah Islam yang toleran dan moderat kepada dunia.
Presiden Remaja Masjid Dunia, Said Aldi Al Idrus, menambahkan bahwa tahun ini MTQ memiliki makna khusus karena dilantunkan sebagai doa bagi jemaah haji dunia yang tengah menjalani wukuf di Arafah. “Selama jamaah bersiap dan melaksanakan wukuf, para pemuda akan melantunkan ayat suci dan doa bersama secara berkelanjutan hingga penutupan acara,” katanya. Hal ini menunjukkan dimensi spiritual yang mendalam dari ajang tersebut, menghubungkan peserta di Istiqlal dengan jutaan muslim di Tanah Suci.
Dari sisi diplomasi keagamaan, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, menyebut inisiatif ini “extraordinary” karena digerakkan oleh organisasi pemuda dan berskala internasional. Ia menilai kapasitas generasi muda Indonesia dalam membangun jejaring global patut diapresiasi. “Ini adalah sesuatu yang sangat istimewa karena diorganisasi oleh ormas pemuda dan sifatnya internasional,” ujarnya. Apresiasi ini menegaskan bahwa peran pemuda dalam diplomasi lunak (soft diplomacy) semakin diakui pemerintah.
Bagi Indonesia, MTQ ini bukan sekadar ajang perlombaan. Ia menjadi wahana untuk memperkuat posisi negara sebagai pusat peradaban Islam moderat, sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menekankan harmoni sosial, pembangunan karakter bangsa, dan diplomasi budaya. Di tengah meningkatnya polarisasi global, kehadiran peserta dari China—negara dengan minoritas muslim yang signifikan—dan Palestina menunjukkan bahwa ajang ini mampu merangkul keberagaman politik dan geografis.
Kompetisi ini juga menerapkan standar penilaian profesional yang telah diuji di berbagai negara seperti Kamboja, Thailand, Filipina, Singapura, Malaysia, dan Brunei. Said Aldi Al Idrus menjelaskan bahwa para juri sudah sangat memahami aspek bacaan, tata tertib, dan tajwid, sehingga kualitas penilaian terjamin. Dengan demikian, MTQ Internasional Pemuda Masjid Dunia tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga tolok ukur kemampuan tilawah tingkat global.
Ke depan, keberlanjutan ajang ini akan bergantung pada komitmen para pemuda dan dukungan pemerintah. Apakah MTQ ini mampu menjadi agenda tahunan yang semakin memperluas partisipasi negara-negara non-ASEAN? Atau justru akan menjadi katalis bagi lahirnya forum-forum serupa yang memperkuat ukhuwah Islamiyah? Yang jelas, langkah awal di Istiqlal telah membuktikan bahwa pemuda masjid dunia mampu menjadi agen perdamaian dan moderasi.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7307994/original/030059500_1780093649-7b38ad15-e345-473f-bc8e-7f77b4efe004.jpeg)

