Peringatan Keras Pentagon di Singapura: Sekutu yang Tak Mau Belanja Militer Akan Ditinggalkan
Baca dalam 60 detik
- Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan kawasan Asia-Pasifik sebagai prioritas strategis Washington, namun sekutu diminta meningkatkan belanja pertahanan atau menghadapi perubahan hubungan bilateral.
- Pidato di Shangri-La Dialogue itu menyiratkan tekanan langsung pada negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia untuk memperkuat aliansi di tengah rivalitas dengan China.
- Bagi Indonesia, pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya kemandirian pertahanan nasional di tengah ketidakpastian komitmen AS di Indo-Pasifik.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, memanfaatkan panggung Shangri-La Dialogue di Singapura untuk melontarkan ultimatum kepada negara-negara sekutu: tingkatkan belanja pertahanan atau bersiaplah menghadapi perubahan cara Washington berbisnis. Pidato yang disampaikan Sabtu pagi (30/5) itu langsung menjadi sorotan karena menegaskan kembali doktrin 'America First' di kawasan yang disebutnya sebagai 'wilayah paling konsekuensial di dunia'.
Dalam forum yang mempertemukan 44 negara itu, Hegseth menekankan bahwa keamanan Asia-Pasifik 'secara tidak proporsional' bergantung pada kekuatan militer AS. Namun, ia dengan tegas memperingatkan bahwa sekutu yang enggan memikul beban pertahanan sendiri akan menghadapi 'pergeseran nyata dalam cara kami berbisnis'. Pernyataan ini menjadi sinyal paling keras dari pemerintahan Trump kepada negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia—yang selama ini menjadi pilar aliansi AS di kawasan.
Di sisi lain, Hegseth mengakui bahwa hubungan Washington-Beijing saat ini lebih baik dibandingkan beberapa tahun terakhir di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Meski demikian, ia menegaskan bahwa 'tidak ada negara, termasuk China, yang bisa memaksakan hegemoni dan mempertanyakan keamanan bangsa dan sekutu kami'. Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan global akibat konflik di Timur Tengah dan Eropa, serta ketidakpastian strategi jangka panjang AS di Indo-Pasifik.
Bagi Indonesia, pidato Hegseth membawa implikasi langsung. Sebagai negara yang menganut politik bebas aktif, Jakarta selama ini berusaha menjaga keseimbangan antara AS dan China. Pernyataan bahwa sekutu harus 'memikul beban sendiri' bisa diartikan sebagai dorongan bagi Indonesia untuk mempercepat modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) tanpa terlalu bergantung pada bantuan militer AS. Di saat yang sama, ketegasan Washington terhadap China juga bisa mempersulit posisi Indonesia dalam mengelola ketegangan di Laut China Selatan.
Shangri-La Dialogue, yang digelar sejak 2002, dikenal sebagai ajang diplomasi publik dan diam-diam. Tahun ini, forum berlangsung di tengah meningkatnya persaingan teknologi militer, termasuk rudal hipersonik dan perang siber. Hegseth tidak secara spesifik menyebut Indonesia dalam pidatonya, tetapi pesan bahwa 'tidak ada negara yang bisa memaksakan hegemoni' jelas mengacu pada ekspansi Beijing di kawasan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah sekutu-sekutu AS di Asia—termasuk Indonesia—akan merespons ultimatum ini dengan meningkatkan anggaran pertahanan, atau justru mencari poros baru dengan kekuatan regional lain. Satu hal yang pasti: panggung Singapura tahun ini telah menegaskan bahwa era keterlibatan AS tanpa syarat di Asia-Pasifik mungkin akan segera berakhir.


