Operasi Rahasia Lamine Yamal: Barcelona vs Spanyol Kembali Berseteru
Baca dalam 60 detik
- Lamine Yamal menjalani operasi pangkal paha tanpa sepengetahuan tim medis Spanyol, memicu kemarahan Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF).
- Ketegangan antara Barcelona dan timnas Spanyol sudah berlangsung sejak September, dengan saling tuduh soal penanganan cedera pemain.
- Konflik ini berpotensi memengaruhi performa Yamal dan hubungan klub-negara di masa depan, terutama menjelang Piala Dunia 2026.

Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) mengaku terkejut dan prihatin setelah mengetahui bahwa bintang muda Barcelona, Lamine Yamal, menjalani operasi invasif pada area pangkal paha pada Senin (10/11) tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada tim medis nasional. Prosedur tersebut dilakukan pada hari yang sama ketika Yamal dijadwalkan bergabung dengan pemusatan latihan timnas untuk Kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Georgia dan Turki.
Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, mengaku belum pernah mengalami situasi serupa sepanjang kariernya. "Anda tidak tahu apa-apa, tidak mendengar kabar, lalu tiba-tiba diberi tahu soal masalah kesehatan. Rasanya mengejutkan," ujarnya. De la Fuente kemudian memanggil Jorge de Frutos dari Rayo Vallecano sebagai pengganti.
Dalam pernyataan resmi, RFEF mengungkapkan bahwa mereka baru mengetahui detail prosedur tersebut pada malam hari setelah menerima laporan medis yang merekomendasikan istirahat tujuh hari. "Prosedur ini dilakukan tanpa komunikasi sebelumnya dengan staf medis tim nasional," tulis pernyataan tersebut. Akibatnya, RFEF memutuskan melepas Yamal dari skuad saat ini demi memprioritaskan kesehatannya.
Ini bukan pertama kalinya Barcelona dan Spanyol berselisih soal Yamal. Pada September lalu, pelatih Barcelona Hansi Flick menuduh timnas tidak merawat pemain dengan baik setelah Yamal memperparah cedera pangkal paha saat membela Spanyol melawan Turki dan Bulgaria. Flick mengklaim Yamal diberi obat pereda nyeri untuk bermain meski tidak bisa berlatih di antara pertandingan. "Itu bukan merawat pemain. Saya sangat sedih," kata Flick saat itu.
De la Fuente membela keputusannya dengan mengatakan tidak tertarik dengan pernyataan Flick. Ketegangan kembali memuncak pada Oktober ketika Barcelona mengumumkan cedera Yamal kambuh hanya beberapa jam setelah ia dipanggil timnas. RFEF membantah dengan mengatakan Yamal tidak melaporkan keluhan apa pun, namun akhirnya pemain tersebut tidak tampil dalam dua laga melawan Bulgaria dan Georgia.
Yamal sempat tampil dalam kemenangan 4-2 Barcelona atas Celta Vigo pada Minggu (9/11) sebelum ditarik keluar di masa injury time. Meski performanya impresif, Flick terus menekankan bahwa cedera pangkal paha masih membayangi pemain berusia 18 tahun itu. "Kami harus menjaganya. Cederanya belum selesai. Bukan hanya kami, tapi juga timnas," ujar Flick akhir pekan lalu.
Konflik berkepanjangan ini menyoroti perbedaan prioritas antara klub dan negara dalam menangani pemain muda berbakat. Di satu sisi, Barcelona ingin melindungi aset berharganya, sementara Spanyol membutuhkan Yamal untuk lolos ke Piala Dunia 2026. Situasi serupa juga kerap terjadi di Indonesia, di mana pemain seperti Egy Maulana Vikri atau Witan Sulaeman sering menjadi tarik-ulur antara klub dan timnas. Tanpa komunikasi yang jelas, risiko cedera berkepanjangan dan menurunnya performa pemain semakin besar.
Ke depan, hubungan Barcelona dan RFEF diprediksi semakin tegang, terutama jika Yamal kembali dipanggil untuk pertandingan internasional berikutnya. Pertanyaan besarnya: akankah kedua pihak duduk bersama untuk menyusun protokol penanganan pemain yang lebih transparan, atau konflik ini akan terus berulang dan merugikan sang pemain?



