Gerebek Peternakan Empedu Beruang di Laos: 27 Moon Bear Akhirnya Bebas dari Kandang Sempit
Baca dalam 60 detik
- Operasi penutupan peternakan empedu beruang di Laos utara oleh Free The Bears dan pemerintah setempat disebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara.
- Fasilitas yang menyamar sebagai kebun binatang itu memelihara 27 moon bear dalam kandang sempit selama bertahun-tahun untuk diambil empedunya.
- Praktik perburuan dan penangkaran beruang untuk empedu masih marak di Asia, termasuk ancaman terhadap populasi beruang di Indonesia.

Setelah bertahun-tahun hidup dalam kandang besi sempit tanpa pernah menyentuh tanah, 27 ekor beruang bulan (moon bear) di Laos utara akhirnya merasakan kebebasan. Operasi penyelamatan yang rampung pekan ini oleh organisasi konservasi Free The Bears, dengan dukungan pemerintah Laos, diyakini sebagai penutupan peternakan empedu beruang terbesar dalam sejarah Asia Tenggara.
Fasilitas yang terletak di provinsi utara Laos itu dimiliki oleh seorang warga negara China dan terdaftar sebagai kebun binatang untuk mengelabui pengawasan regulasi. Namun, praktik di lapangan jauh dari kata konservasi: tempat itu adalah pabrik ekstraksi empedu beruang komersial. Selama bertahun-tahun, puluhan beruang Asia (Ursus thibetanus) dipelihara dalam kondisi mengenaskan, sebagian tidak pernah menginjak tanah selama dua tahun, dan baru kini bisa minum air bersih serta merasakan tanah padat di bawah cakar mereka.
Praktik pengambilan empedu beruang telah lama menjadi perdebatan di Asia. Empedu beruang dipercaya memiliki khasiat medis dalam pengobatan tradisional Tiongkok, meskipun klaim tersebut tidak didukung bukti ilmiah modern. Beruang yang ditangkap atau diternak seringkali dipasangi kateter permanen untuk mengalirkan empedu, menyebabkan infeksi, kebutaan, dan kematian. Laos, bersama Vietnam dan Myanmar, menjadi salah satu pusat peternakan ilegal yang sulit diberantas karena lemahnya penegakan hukum dan tingginya permintaan dari pasar Tiongkok.
Bagi Indonesia, praktik serupa juga menjadi ancaman. Beruang madu (Helarctos malayanus) yang dilindungi undang-undang masih kerap diburu untuk diambil empedu dan bagian tubuh lainnya. Meskipun penangkaran empedu beruang tidak sebesar di Laos atau Vietnam, perdagangan ilegal satwa liar di Indonesia tetap tinggi. Operasi di Laos ini diharapkan menjadi preseden bagi negara-negara Asia Tenggara lainnya, termasuk Indonesia, untuk memperketat pengawasan terhadap tempat penampungan satwa yang mencurigakan.
Menurut Free The Bears, beruang-beruang yang diselamatkan kini menjalani rehabilitasi di pusat konservasi sebelum dilepasliarkan ke habitat alami. Namun, tantangan ke depan masih besar: bagaimana memastikan peternakan serupa tidak muncul kembali, dan bagaimana mengubah persepsi masyarakat terhadap penggunaan empedu beruang. Pertanyaan yang menggantung: mampukah operasi besar ini memicu efek domino penutupan peternakan empedu di seluruh Asia Tenggara?



