Biografer Errol Flynn: Ikon Hollywood yang Rasis dan Pemerkosa
Baca dalam 60 detik
- Patricia O'Brien dalam biografi terbaru mengungkap sisi gelap Errol Flynn, termasuk rasisme dan tuduhan pemerkosaan yang mewarnai kariernya.
- Flynn memanfaatkan hak istimewa kolonial di Papua Nugini untuk mengeksploitasi perempuan lokal, mencerminkan budaya imperialis yang rasis.
- Buku ini mengaitkan perilaku Flynn dengan budaya seksual predator yang mirip dengan kasus Jeffrey Epstein di era modern.

Errol Flynn, aktor Hollywood kelahiran Tasmania yang dikenal lewat film petualangan seperti The Adventures of Robin Hood dan Captain Blood, kembali menjadi sorotan. Namun kali ini bukan karena pesonanya di layar lebar, melainkan melalui biografi karya Patricia O'Brien yang mengupas sisi kelam sang bintang. Dalam buku berjudul Errol Flynn: The True Story of Australia's Hollywood Icon, O'Brien menyebut Flynn sebagai "heartthrob terbesar zamannya" sekaligus seorang rasis dan pemerkosa.
O'Brien, sejarawan Pasifik yang berbasis di Australia dan Amerika Serikat, tidak sekadar merangkum kehidupan Flynn. Ia menempatkan sang aktor dalam konteks budaya rasis imperialisme Inggris, terutama saat Flynn muda menghabiskan enam tahun di Papua Nugini. Di sana, ia terlibat dalam demam emas 1927 dan bekerja di pertambangan serta tembakau. O'Brien mengkritik keras praktik kolonial Australia yang memperkuat rasa superioritas rasial yang sudah ditanamkan ayah Flynn, Theodore Flynn, seorang profesor biologi yang meyakini keunggulan ras kulit putih dan menentang hubungan antarras.
Namun, Flynn justru memanfaatkan posisinya sebagai penjajah untuk menjalin hubungan dengan perempuan lokal. Sejak remaja, ia menganggap perempuan sebagai sasaran empuk, dan kebiasaan ini berlanjut hingga tiga pernikahannya yang gagal. O'Brien mencatat bahwa reputasi Flynn sebagai "great lover" sudah terbentuk sejak awal kariernya di Hollywood, meskipun dibayangi oleh banyak perselingkuhan dan tuduhan pemerkosaan.
Buku ini juga menyoroti sisi lain Flynn, seperti keterlibatannya sebagai koresponden perang dalam Perang Saudara Spanyol yang mendukung Republikan, serta pertemuannya dengan Fidel Castro di Kuba pada 1959. Film terakhirnya, Cuban Rebel Girls, disebut sebagai campuran dukungan terhadap Castro dan sensasi heteroseksual. Meskipun demikian, O'Brien dianggap enggan mengeksplorasi rumor biseksualitas Flynn, yang disebutnya "mengada-ada".
"O'Brien menyebut Flynn sebagai 'the greatest heartthrob of his time', namun mengabaikan aktor seperti Humphrey Bogart dan Clark Gable. Ia juga mengkritik keras rasisme dan seksisme yang melekat dalam kehidupan dan karier Flynn."
Di akhir biografinya, O'Brien mengakui bahwa buku ini tetap menarik untuk dibaca, meskipun film-film Flynn kini terasa ketinggalan zaman dan sarat dengan privilese kulit putih. Bagi O'Brien, Flynn bukan sekadar bintang Hollywood, melainkan cerminan dari budaya yang lebih luasโsebuah budaya yang masih bergema hingga kini.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7250535/original/086247000_1780036645-am1.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7259728/original/067836900_1780045811-3.jpg)