F1 di Persimpangan: Simulator Ferrari, Ancaman Verstappen, dan Dominasi Mercedes
Baca dalam 60 detik
- Lewis Hamilton mengungkapkan bahwa simulator Ferrari justru menghambat performanya, sehingga ia memilih tidak menggunakannya sebelum GP Kanada dan meraih hasil positif.
- Max Verstappen kembali mengancam akan hengkang dari F1 jika regulasi mesin tidak diubah, menilai kompleksitas manajemen energi membuat balapan kehilangan esensi kemurniannya.
- Mercedes tampil dominan dengan lima kemenangan beruntun, namun McLaren dan Ferrari diyakini masih berpotensi mengejar ketertinggalan di seri-seri mendatang.

Grand Prix Kanada akhir pekan lalu tidak hanya menyajikan duel sengit antara Kimi Antonelli dan Lewis Hamilton, tetapi juga memunculkan kembali pertanyaan krusial tentang masa depan Formula 1. Dari masalah simulator Ferrari yang disebut menghambat performa Hamilton hingga ancaman Max Verstappen untuk pensiun dini, paddock Montreal menjadi panggung diskusi hangat mengenai arah regulasi dan persaingan musim ini.
Lewis Hamilton mencuri perhatian setelah finis kedua di belakang Antonelli, sekaligus mengungguli rekan setimnya Charles Leclerc sepanjang akhir pekan. Pebalap asal Inggris itu mengungkapkan bahwa ia memutuskan tidak menggunakan simulator Ferrari sebelum balapan di Kanada, setelah merasa perangkat tersebut justru memberikan arahan set-up yang keliru. "Saya merasa memulai dengan langkah yang benar, dengan sikap yang tepat, dan mobil benar-benar terasa hebat," ujar Hamilton. Meski enggan terkesan mengkritik simulator, ia menegaskan bahwa dua balapan terbaiknya musim iniโdi China dan Kanadaโdicapai tanpa bantuan simulator. "Saya lebih baik tanpa itu," tegasnya. Namun, analis menilai bahwa kedua sirkuit itu memang merupakan trek favorit Hamilton, sehingga diperlukan bukti lebih lanjut untuk memastikan simulator sebagai akar masalah.
Sementara itu, Max Verstappen kembali melontarkan ancaman serius untuk meninggalkan F1 jika regulasi mesin tidak berubah. Juara dunia bertahan itu menilai mobil dan mesin saat ini terlalu kompleks dengan manajemen energi yang berlebihan. "Secara mental, saya tidak bisa bertahan seperti ini. Sungguh tidak bisa," ucapnya. Verstappen merujuk pada pengalamannya di Nurburgring 24 Jam yang mengingatkannya akan "kemurnian olahraga motor". Ia mendesak perubahan rasio tenaga mesin pembakaran dan listrik menjadi 60:40, dari saat ini yang nominal 50:50 (realita sekitar 54:46). Para pebalap lain, termasuk Antonelli dan Hamilton, mengaku merasakan hal serupa: tenaga mobil sering turun di tengah lintasan lurus, sesuatu yang tidak seharusnya terjadi dalam olahraga balap.
Di sisi lain, dominasi Mercedes musim ini nyaris tak terbantahkan. Tim pabrikan Jerman itu telah meraih pole position dan memenangi setiap grand prix, kecuali sprint di Miami yang direbut Lando Norris. Rata-rata keunggulan Mercedes di kualifikasi mencapai 0,369 detik atas McLaren, pesaing terdekat. Kimi Antonelli memimpin klasemen dengan selisih 56 poin dari pebalap non-Mercedes pertama. Meski demikian, Monaco diyakini akan menjadi medan yang cocok bagi Ferrari, sementara McLaren masih dianggap sebagai ancaman terbesar jika mampu mengoptimalkan upgrade. Pertanyaan besarnya adalah seberapa cepat para penantang bisa mengejar, sebelum keunggulan Mercedes menjadi tak terkejar.
Perubahan regulasi mesin untuk musim depan juga masih terganjal politik antar pabrikan. Ferrari dan Audi menolak usulan perubahan rasio tenaga karena alasan biaya dan aturan pengembangan. Namun, ada harapan kesepakatan dapat tercapai pekan ini dengan kompromi yang sesuai. Jika perubahan jadi dilakukan, semua pabrikan harus mendesain ulang mesin, dan beberapa tim khawatir harus membangun sasis baru untuk menampung tangki bahan bakar yang lebih besar. Solusi sementara yang disepakati adalah memangkas satu atau dua lap pada balapan dengan konsumsi bahan bakar tertinggi.
Musim 2025 masih panjang, dan persaingan belum sepenuhnya milik Mercedes. Namun, jika tim perak mampu tampil meyakinkan di Spanyol setelah Monaco, maka sulit membayangkan ada yang bisa menghentikan laju mereka. Di tengah hiruk-pikuk regulasi dan ancaman pebalap, F1 berada di persimpangan: antara mempertahankan tontonan yang spektakuler atau mengembalikan esensi balap yang murni.


