LMA Awards 2025: Para Pelatih yang Berhasil Melampaui Ekspektasi Musim Ini
Baca dalam 60 detik
- Andoni Iraola membawa Bournemouth lolos ke kompetisi Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarah klub, membuktikan bahwa kesabaran terhadap pelatih dapat membuahkan hasil.
- Keith Andrews dari Brentford nyaris membawa timnya ke kualifikasi Eropa meski diprediksi akan terdegradasi, menunjukkan performa luar biasa di musim debutnya.
- Pelatih dari divisi bawah seperti Andy Woodman (Bromley) dan Michael Skubala (Lincoln) juga menuai pujian atas pencapaian signifikan dengan anggaran terbatas.

Menjelang penghargaan tahunan League Managers Association (LMA) yang digelar Selasa ini, sejumlah nama pelatih mencuat sebagai kandidat kuat berkat pencapaian mereka yang melampaui ekspektasi di musim 2024/2025. Dalam tradisi yang sudah berlangsung lebih dari tiga dekade, LMA Manager of the Year tidak selalu jatuh ke tangan pelatih Premier League; tujuh dari 14 pemenang terakhir justru berasal dari luar kasta tertinggi. Musim ini, beberapa pelatih dari berbagai divisi layak mendapat sorotan.
Di Premier League, Andoni Iraola menjadi sorotan utama setelah membawa Bournemouth finis di zona Europa League. Prestasi ini terbilang fenomenal mengingat klub pantai selatan itu harus terus menjual pemain terbaiknya setiap bursa transfer. Iraola, yang sempat kesulitan di awal masa baktinya dengan 10 laga tanpa kemenangan, kini menuai hasil dari konsistensi dan kesabaran. โDia membuktikan bahwa pelatih hebat butuh waktu,โ ujar Tony Pulis, mantan manajer Premier League, dalam kolomnya untuk BBC Sport. Keberhasilan Iraola mengamankan tiket Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarah Bournemouth menjadi bukti nyata bahwa manajemen yang stabil dapat mengubah nasib klub.
Di luar Premier League, cerita sukses juga datang dari divisi bawah. Andy Woodman membawa Bromley meraih gelar juara League Two setelah melalui 21 laga tak terkalahkan sejak Desember hingga Maret. Pencapaian ini dinilai luar biasa mengingat Bromley bukanlah tim unggulan. Sementara itu, Michael Skubala dari Lincoln City berhasil membawa timnya promosi ke Championship, sebuah capaian yang tak banyak diprediksi oleh pengamat. Di sisi lain, kembalinya Coventry City ke Premier League setelah 25 tahun absen di bawah asuhan Frank Lampard juga menjadi sorotan, meski tantangan besar menanti di musim depan.
Tony Pulis, yang pernah meraih penghargaan manajer terbaik Premier League bersama Crystal Palace pada 2014, menyoroti meningkatnya tekanan terhadap pelatih di era modern. โMusim pemecatan kini tidak hanya terjadi di Oktober, tetapi juga setelah tahun baru dan bahkan di akhir musim,โ tulisnya. Ia menekankan bahwa stabilitas kursi manajer semakin langka, dan kesabaran menjadi kunci utama bagi kesuksesan jangka panjang. Pulis juga menyesalkan hilangnya tradisi seminar kepelatihan pasca-musim yang dulu menjadi ajang berbagi ilmu antar pelatih.
Dengan semakin ketatnya persaingan dan tuntutan instan, para pelatih yang berhasil melampaui ekspektasi musim ini layak diapresiasi. Penghargaan LMA nanti malam akan menjadi momen untuk merayakan kerja keras mereka, baik di papan atas maupun di divisi bawah yang penuh keterbatasan.



