Menyelamatkan Industri Arang Jepang: Bisnis Tradisional yang Kian Terpinggirkan
Baca dalam 60 detik
- Jumlah perajin arang di Jepang menyusut 14% dalam empat tahun terakhir, mengancam kelestarian teknik pembuatan arang tradisional.
- Seorang pengusaha, Naoyuki Hirose, menghubungkan produsen arang dengan restoran kelas atas untuk meningkatkan profitabilitas dan menarik generasi muda.
- Pengelolaan hutan kayu keras tidak hanya menghasilkan arang berkualitas, tetapi juga mencegah bencana tanah longsor di Jepang.

Industri arang tradisional Jepang menghadapi tantangan serius. Data pemerintah menunjukkan jumlah perajin arang menyusut dari 1.739 orang pada 2020 menjadi hanya 1.491 orang pada 2024. Di tengah penurunan ini, seorang pengusaha bernama Naoyuki Hirose berupaya menghidupkan kembali sektor yang nyaris punah tersebut dengan strategi yang menyentuh aspek lingkungan dan ekonomi.
Hirose, presiden Tokyo Nenryo Rinsan Corp., perusahaan grosir kayu bakar, arang, dan LPG, merasakan dampak penyusutan pasar arang domestik. Namun, ia melihat peluang di segmen restoran mewah. Dalam sebuah acara promosi penggunaan kayu keras lokal di Tokyo pada Februari lalu, ia mengungkapkan bahwa permintaan arang Jepang meningkat di kalangan restoran kaisekiโtempat penyajian hidangan tradisional Jepang yang rumit. "Saya ingin bisnis pembuatan arang Jepang menguntungkan sehingga generasi muda tertarik," ujarnya.
Arang Jepang, seperti binchotan, dikenal memiliki suhu pembakaran tinggi dan pembakaran tanpa asap yang tahan lama. Mitsuhiro Komuro, pemilik restoran kaiseki di Tokyo, mengaku menggunakan binchotan untuk memasak ikan dan jamur matsutake. Menurutnya, arang tersebut membuat makanan lebih empuk dan harum, jauh lebih baik daripada menggunakan wajan penggorengan. Namun, manfaat arang Jepang belum banyak diketahui masyarakat luas. Tomohiko Nomura, presiden perusahaan grup Tokyo Nenryo Rinsan di Prefektur Kumamoto, menekankan pentingnya mencoba langsung untuk meningkatkan kesadaran.


