Taylor Swift Daftarkan Merek Dagang Suara dan Penampilan Panggung, Pukul Balik Ancaman AI
Baca dalam 60 detik
- Taylor Swift mengajukan permohonan merek dagang untuk suara dan citra panggungnya, termasuk dua rekaman ucapan khas dan foto kostum Eras Tour.
- Langkah ini menyoroti celah hukum perlindungan hak kekayaan intelektual di era AI, di mana tiruan suara dan gambar semakin sulit dibedakan.
- Jika disetujui, merek dagang ini akan menjadi senjata hukum baru bagi artis untuk melawan deepfake dan konten AI tanpa izin.

Taylor Swift kembali mengambil langkah terobosan dengan mengajukan permohonan merek dagang yang mencakup suara dan penampilan panggungnya. Dalam pengajuan tersebut, ia menyertakan foto dirinya tengah manggung dengan bodysuit khas Eras Tour serta dua rekaman suara: “Hey, it’s Taylor” dan “Hey, it’s Taylor Swift.” Langkah ini menjadi yang pertama dilakukan oleh musisi papan atas, meskipun aktor Matthew McConaughey telah lebih dulu mendaftarkan merek dagang untuk beberapa dialog film ikoniknya awal tahun ini.
Keputusan Swift tidak muncul begitu saja. Penyanyi yang dikenal vokal dalam memperjuangkan hak artis ini sebelumnya pernah menarik seluruh katalog musiknya dari Spotify pada 2014 sebagai protes atas rendahnya royalti yang diterima musisi. Ia juga memulai proyek rekaman ulang album lamanya sejak 2019 setelah katalog master aslinya dibeli oleh Scooter Braun. Kini, ancaman baru datang dari teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mampu meniru suara dan gambar secara meyakinkan.
Swift sendiri pernah menjadi korban deepfake, termasuk gambar pornografi palsu dan foto AI yang menampilkannya mengenakan kaus “Swifties for Trump” menjelang pemilu AS. Undang-undang seperti Take It Down Act (AS, 2025) dan Data (Use and Access) Act (Inggris, 2025) mulai memberikan perlindungan terhadap konten deepfake eksplisit. Namun, Swift tampaknya ingin memiliki kendali lebih kuat melalui jalur hukum perdata dengan mendaftarkan merek dagang suara dan citranya.
Para ahli menilai bahwa merek dagang semacam ini hanya melindungi secara persis apa yang didaftarkan—prinsip “apa yang Anda lihat itulah yang Anda dapatkan”. Meski demikian, banyak platform media sosial mensyaratkan bukti pendaftaran kekayaan intelektual sebelum menurunkan konten yang diduga melanggar. Dengan demikian, kepemilikan merek dagang setidaknya menjadi alat pencegah yang efektif terhadap pemalsuan di masa depan.
Tantangan lebih kompleks muncul ketika AI menggunakan karya yang sudah ada sebagai data pelatihan untuk menciptakan karya baru. Sebagai contoh, seseorang dapat meminta AI menulis lagu bergaya Swift era Fearless namun dinyanyikan dengan suara hasil sintesis Norah Jones dan Diana Krall. Akan sangat sulit membuktikan pelanggaran hak cipta spesifik karena AI menggabungkan puluhan lagu dan pertunjukan. Di sinilah hak moral integritas pencipta lagu—yang melindungi karya dari adaptasi tanpa izin—menjadi relevan.
Di Inggris, Musicians Union telah meluncurkan inisiatif yang menuntut persetujuan dan kompensasi atas penggunaan karya untuk pelatihan AI. Pemerintah Inggris pun mundur dari rencana memberikan pengecualian pelatihan AI atas karya berhak cipta setelah mendapat tentangan keras dari industri kreatif. Sementara itu, Performing Rights Society (PRS) Inggris menyatakan tidak akan mendaftarkan karya yang sepenuhnya dihasilkan AI, tetapi akan menerima karya yang dibantu AI—sebuah garis batas yang masih kabur.
Beberapa perusahaan AI telah mencapai kesepakatan dengan pemegang hak musik besar terkait penggunaan data pelatihan. Namun, artis seperti Swift mungkin masih membutuhkan perlindungan lebih kuat untuk mencegah eksploitasi komersial tanpa izin atas gaya vokal khas mereka. Dengan langkah ini, Swift kembali menunjukkan bahwa ia tidak segan menjadi pelopor dalam memperjuangkan hak artis di era digital yang kian kompleks.


