Euforia Hattrick Persib Diwarnai Insiden: Ponsel Pemain Hilang, 122 Kecelakaan, dan Dua Tewas
Baca dalam 60 detik
- Perayaan hattrick juara Persib Bandung diwarnai insiden kehilangan ponsel pemain Frans Putros saat konvoi di Asia Afrika.
- Sepanjang perayaan, tercatat 122 kecelakaan lalu lintas dan dua korban tewas akibat kekerasan, memicu kritik terhadap manajemen keamanan.
- Bobotoh dan pengamat menuntut evaluasi serius dari Pemkot Bandung agar perayaan serupa tidak kembali menimbulkan korban.

Perayaan hattrick juara Persib Bandung di BRI Super League Indonesia 2025/2026 berubah menjadi mimpi buruk. Di tengah euforia ribuan bobotoh yang memadati Jalan Asia Afrika, Minggu (24/5/2026), sejumlah insiden mencoreng pesta, mulai dari kehilangan ponsel pemain hingga dua korban tewas akibat kekerasan.
Puncak kegaduhan terjadi saat pemain Persib, Frans Putros, kehilangan ponsel pintarnya di tengah kerumunan. Momen itu terekam dan viral di media sosial, memicu tuduhan liar terhadap seorang bobotoh bernama Muhammad Moza. Melalui klarifikasi di Instagram, Moza membantah terlibat dan siap menempuh jalur hukum jika tuduhan mencemarkan namanya. Polrestabes Bandung telah melakukan penyelidikan dengan memeriksa sejumlah saksi.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengakui bahwa perayaan kali ini sangat padat. Ia mencatat 122 kecelakaan lalu lintas dan dua kematian akibat kekerasan selama periode perayaan. Sebanyak 39 korban dirujuk ke rumah sakit, 26 di antaranya masih dirawat. Farhan menyebut jarak konvoi yang lebih panjang (5 km dibanding 2 km tahun lalu) dan lokasi akhir di Alun-alun yang daya tampungnya lebih kecil sebagai penyebab kepadatan.
Kritik tajam datang dari bobotoh dan pengamat. Ghani Fadilah, bobotoh asal Riung Bandung, menilai konvoi tahun ini paling buruk dalam tiga tahun terakhir karena minim evaluasi. Sementara peneliti hukum olahraga, Eko Noer Kristiyanto, menyayangkan ketidaksiapan penyelenggara dalam mengantisipasi massa dan menyediakan jalur evakuasi. "Pemain nggak nyaman, bobotoh banyak yang pingsan. Evaluasinya harus bener, bukan cuma retorika," tegasnya.
"Persiapannya juga harus oke, bukan cuma ngerilis jalur konvoi. Itu sama dengan undang 'woi ayo ke sini', tapi setelah sampai mau diapain biar aman tidak ada. Mitigasinya tidak ada," ujar Eko.
Pemerintah Kota Bandung berjanji akan mengevaluasi aspek keamanan dan lokasi perayaan ke depan. Namun, bobotoh dan pengamat menuntut langkah konkret, bukan sekadar janji. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa euforia sepak bola harus diimbangi dengan manajemen risiko yang matang agar tidak kembali menelan korban.


