Tao Okamoto Ukir Sejarah di Cannes, Sutradara Hamaguchi Soroti Ketimpangan Industri Film Jepang
Baca dalam 60 detik
- Aktris Jepang Tao Okamoto menjadi penerima pertama penghargaan aktris terbaik Cannes dari Jepang, bersama lawan mainnya Virginie Efira.
- Film 'All of a Sudden' garapan Ryusuke Hamaguchi mengangkat tema persahabatan di tengah penyakit, diadaptasi dari buku surat filsuf dan antropolog.
- Hamaguchi membandingkan sistem produksi film Prancis yang ketat dengan Jepang, menekankan pentingnya kesejahteraan kru tanpa mengorbankan dampak emosional.

Aktris Jepang Tao Okamoto mengaku belum sepenuhnya menyadari makna historis dari kemenangannya sebagai aktris terbaik di Festival Film Cannes 2025, bersama rekan mainnya Virginie Efira. Dalam konferensi pers di Japan National Press Club, Tokyo, Selasa, Okamoto yang menjadi aktris Jepang pertama meraih penghargaan tersebut berharap prestasi ini bisa mendorong lebih banyak penonton untuk menyaksikan film garapan Ryusuke Hamaguchi.
Film berjudul 'All of a Sudden' (dalam bahasa Prancis 'Soudain') ini dijadwalkan tayang perdana di Jepang pada 19 Juni. Kisahnya diangkat dari buku kumpulan surat tentang penyakit dan kematian yang ditukarkan seorang filsuf dengan seorang antropolog. Okamoto memerankan sutradara teater yang berjuang melawan kanker, sementara Efira berperan sebagai direktur panti jompo. Keduanya menjalin persahabatan yang mendalam di tengah situasi sulit.
Sutradara peraih Oscar itu memuji kedua aktrisnya bukan hanya sebagai pemain luar biasa, tetapi juga 'manusia yang luar biasa'. Menurut Hamaguchi, film ini berhasil berkat 'energi emosional' yang terus-menerus mereka berikan satu sama lain. Bahkan saat proses penyuntingan dan sulih suara, ia mengaku kembali terharu. 'Kadang saya hampir merasa malu karena begitu emosional,' ujarnya.
Baik Okamoto maupun Efira memuji pendekatan khas Hamaguchi yang sangat fokus pada aktor begitu kamera mulai bergulir. Metode ini, menurut mereka, menciptakan ruang aman untuk eksplorasi emosi yang mendalam.
Di luar pujian, Hamaguchi menyoroti perbedaan mencolok antara sistem produksi film di Prancis dan Jepang. Selama syuting yang melibatkan kerja sama internasional antara Jepang, Belgia, Prancis, dan Jerman, ia terkesan dengan aturan ketat Prancis: jam syuting yang dibatasi, waktu istirahat wajib, dan perlindungan lembur bagi kru. Aturan ini memang membuat anggaran produksi tiga kali lipat lebih besar dibandingkan di Jepang, namun Hamaguchi menilai kondisi kerja di Jepang bisa diperbaiki dengan mengurangi skala proyek tanpa menambah anggaran.
'Produksi skala besar memang bisa menciptakan tontonan spektakuler, tetapi tontonan saja tidak cukup untuk menggerakkan hati penonton atau mengubah cara mereka memandang hidup,' kata Hamaguchi.
Pandangan ini membuka diskusi tentang keberlanjutan industri film Jepang. Alih-alih mengejar kemegahan visual, Hamaguchi menekankan pentingnya kesejahteraan kru dan kualitas narasi. Dengan pendekatan yang lebih manusiawi, ia optimistis film Jepang bisa tetap kompetitif tanpa mengorbankan integritas artistik.


