Rupiah Terjebak di Level Terendah, Dolar AS Mulai Tertekan Sentimen Damai Iran
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah dibuka stagnan di Rp17.730 per dolar AS pada Selasa (26/5), menyusul pelemahan 0,23% sehari sebelumnya yang menjadi rekor terlemah sepanjang sejarah.
- Indeks dolar AS (DXY) turun 0,17% ke 99,068 seiring meningkatnya ekspektasi gencatan senjata di Timur Tengah yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz.
- Penurunan harga minyak di bawah US$100 per barel akibat optimisme damai Iran memberikan ruang bagi penguatan mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pergerakan yang minim pada perdagangan Selasa (26/5/2026). Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda membuka sesi di level Rp17.730 per dolar AS, persis sama dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya. Stagnasi ini terjadi sehari setelah rupiah mencatat pelemahan 0,23% ke level yang sama, yang sekaligus menjadi titik terendah sepanjang masa.
Meski rupiah belum mampu bangkit, tekanan terhadap dolar AS mulai terlihat. Indeks dolar AS (DXY) tercatat turun 0,17% ke posisi 99,068 pada pukul 09.00 WIB. Pelemahan greenback ini didorong oleh meningkatnya optimisme investor terhadap potensi penyelesaian konflik Iran yang telah berlangsung tiga bulan. Harapan akan dibukanya kembali Selat Hormuzโjalur vital pasokan minyak globalโmenjadi katalis utama yang mengubah sentimen pasar.
Perkembangan diplomasi di Timur Tengah turut mempengaruhi pergerakan pasar. Negosiator utama Iran bersama menteri luar negerinya dikabarkan tengah berada di Doha untuk berdialog dengan Perdana Menteri Qatar. Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan berlangsung "baik", meski tetap memberikan ancaman serangan baru apabila negosiasi gagal. Di sisi lain, Komando Pusat AS mengonfirmasi telah melancarkan serangan terbatas untuk melindungi pasukannya dari ancaman Iran.
Meskipun situasi geopolitik masih jauh dari stabil, pasar mulai melakukan priced-in terhadap skenario damai. Penurunan DXY mengindikasikan pelaku pasar mulai mengurangi eksposur terhadap aset berbasis dolar AS. Jika tren ini berlanjut, rupiah berpotensi memperoleh momentum penguatan, terutama jika diikuti oleh arus masuk modal asing ke pasar keuangan domestik.
Namun, para pelaku pasar tetap waspada mengingat libur panjang Idul Adha dapat mengurangi volume perdagangan dan meningkatkan volatilitas. Keputusan bank sentral AS (Federal Reserve) terkait suku bunga juga masih menjadi faktor penentu arah dolar AS ke depan. Untuk saat ini, rupiah masih harus bertahan di zona tekanan sebelum ada kejelasan lebih lanjut mengenai gencatan senjata di Timur Tengah.


