Sonny Rollins, Legenda Saksofon Jazz yang Tak Pernah Puas, Tutup Usia di 95 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Sonny Rollins, maestro tenor saksofon yang dikenal karena improvisasi dan eksperimentasi tanpa henti, meninggal di usia 95 tahun di kediamannya di Woodstock, New York.
- Sepanjang kariernya yang membentang lebih dari lima dekade, Rollins menjadi salah satu ikon jazz bersama John Coltrane dan Charlie Parker, meski ia sendiri selalu menganggap dirinya 'pekerjaan yang sedang berjalan'.
- Warisan Rollins tidak hanya terbatas pada jazz; kolaborasinya dengan The Rolling Stones pada album 'Tattoo You' memperkenalkan sentuhan saksofonnya ke audiens rock yang lebih luas.

Dunia jazz kehilangan salah satu tokoh terbesarnya. Sonny Rollins, pemain saksofon tenor yang dikenal karena pendekatan inovatif dan pencarian artistik tanpa henti, meninggal dunia pada Senin lalu di usia 95 tahun. Kepergiannya menandai berakhirnya era seorang jenius yang tak pernah puas dengan pencapaiannya sendiri.
Menurut juru bicara Terri Hinte, Rollins mengembuskan napas terakhir di rumahnya di Woodstock, New York. Meski penyebab pasti kematian tidak disebutkan, ia diketahui telah mengalami berbagai masalah kesehatan dalam beberapa tahun terakhir yang membatasi aktivitasnya di dalam rumah. Rollins adalah salah satu saksofonis paling berpengaruh sepanjang masa, sejajar dengan John Coltrane dan Charlie Parker, namun ia selalu menolak untuk berpuas diri.
Bagi penggemar rock, nama Rollins mungkin akrab lewat kontribusinya pada album Tattoo You (1981) milik The Rolling Stones. Dalam lagu "Waiting on a Friend", solo saksofonnya yang melankolis menjadi elemen ikonik, terinspirasi setelah ia melihat Mick Jagger menari. Kolaborasi ini membuktikan bahwa sentuhan jazz Rollins mampu melampaui batas genre.
Meski karya awalnya dalam era bebop sangat populer, Rollins justru enggan menoleh ke belakang. Ia mengaku mendengarkan rekaman lamanya terasa "menyiksa" karena ia terus melihat kekurangan. Dalam wawancara dengan Associated Press pada 2007, ia menyatakan, "Saya tidak menganggap diri saya seorang musisi yang telah belajar sebanyak yang saya ingin pelajari." Pernyataan ini mencerminkan semangatnya yang tak pernah padam untuk berkembang.
Rollins selalu menyebut dirinya sebagai "pekerjaan yang sedang berjalan" (a work in progress). Ia bukan tipe seniman yang nyaman dengan satu gaya bermain. Sebaliknya, ia terus bereksperimen, dari bebop hingga free jazz, dan selalu mencari cara baru untuk mengekspresikan diri. Pendekatan ini membuatnya tetap berada di garis depan jazz selama lebih dari 50 tahun.
Kehilangan Sonny Rollins adalah pukulan berat bagi dunia musik. Namun, warisannya akan terus hidup melalui rekaman-rekamannya yang tak lekang waktu dan pengaruhnya terhadap generasi musikus setelahnya. Ia membuktikan bahwa ketidakpuasan terhadap diri sendiri bisa menjadi bahan bakar kreativitas yang paling kuat.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7253853/original/081293400_1780039900-1.jpg)

