Jalan Ambles di Lenteng Agung: Gorong-gorong Tua Diduga Picu Sinkhole, Alat Berat Dikerahkan
Baca dalam 60 detik
- Sebuah lubang sedalam 3 meter dan lebar 4 meter menganga di Jalan Raya Lenteng Agung, diduga akibat gorong-gorong tua yang keropos.
- Dinas SDA DKI Jakarta mengerahkan ekskavator untuk membersihkan puing dan menstabilkan area, sementara kemacetan parah terjadi di jalur menuju Depok.
- Insiden ini kembali menyoroti risiko infrastruktur bawah tanah yang menua di Jakarta, khususnya di wilayah dengan drainase padat.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7253853/original/081293400_1780039900-1.jpg)
Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta mengerahkan alat berat jenis ekskavator ke Jalan Raya Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Jumat (29/5/2026), untuk menangani lubang runtuhan (sinkhole) selebar 4 meter dan sedalam 3 meter yang menganga sejak Kamis malam. Jalan yang menjadi jalur utama menuju Depok itu sempat lumpuh total akibat amblesan sepanjang 16 meter yang diduga dipicu oleh gorong-gorong tua yang sudah keropos di bawah permukaan aspal.
Lubang besar itu pertama kali muncul sekitar pukul 21.00 WIB pada Kamis (28/5/2026) di ruas jalan arah Depok, tepatnya di Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa. Warga dan pengendara yang melintas melaporkan suara gemuruh sebelum aspal ambles, meninggalkan lubang menganga yang langsung dipasangi garis polisi oleh petugas. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, namun kemacetan panjang tak terhindarkan sejak Jumat pagi karena arus lalu lintas dialihkan ke jalur alternatif.
Kepala Dinas SDA DKI Jakarta, dalam keterangan di lokasi, menjelaskan bahwa tim teknis menduga penyebab utama amblesan adalah gorong-gorong beton tua berdiameter 1,5 meter yang sudah mengalami keropos parah. "Struktur gorong-gorong di bawah jalan ini diperkirakan berusia lebih dari 30 tahun dan tidak lagi mampu menahan beban permukaan serta aliran air tanah," ujarnya. Proses pembersihan puing dengan ekskavator merupakan langkah awal sebelum dilakukan investigasi geoteknik lebih lanjut untuk menentukan metode perbaikan permanen.
Insiden ini bukan yang pertama terjadi di Jakarta. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, sedikitnya lima sinkhole dilaporkan di berbagai titik, seperti di kawasan Mampang Prapatan dan Cawang. Para ahli perkotaan menilai bahwa infrastruktur bawah tanah Jakarta, khususnya saluran drainase dan gorong-gorong, sebagian besar dibangun pada era 1980-an dan jarang mengalami peremajaan menyeluruh. Menurut pengamat tata kota dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Surya, "Kombinasi antara usia infrastruktur, beban lalu lintas yang terus meningkat, dan perubahan muka air tanah akibat pembangunan gedung bertingkat menciptakan risiko amblesan yang semakin tinggi."
Bagi pengguna jalan yang setiap hari melintasi Lenteng Agung, dampaknya langsung terasa. Rute alternatif seperti Jalan Raya Jagakarsa dan Jalan Raya Tanjung Barat ikut macet parah pada jam sibuk. Pemerintah Kota Jakarta Selatan telah mengimbau pengendara untuk menghindari kawasan tersebut hingga proses penimbunan kembali selesai, yang diperkirakan memakan waktu setidaknya satu pekan. Sementara itu, Dinas Bina Marga DKI Jakarta berjanji akan melakukan audit menyeluruh terhadap gorong-gorong di sepanjang koridor Lenteng Agung untuk mencegah kejadian serupa.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah sejauh mana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta serius melakukan pemetaan dan peremajaan infrastruktur bawah tanah secara sistematis. Dengan ribuan kilometer gorong-gorong yang membentang di bawah ibu kota, insiden Lenteng Agung bisa menjadi alarm bagi titik-titik rawan lainnya yang belum terdeteksi.



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7438136/original/047766900_1780214462-Ombak_Bali.jpeg)