Harga Minyak Jatuh Bebas, Pasar Optimis AS-Iran Segera Sepakat Damai
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah Brent dan WTI anjlok lebih dari 4% pada perdagangan Asia, dipicu spekulasi kesepakatan damai AS-Iran yang akan membuka kembali Selat Hormuz.
- Meski ada optimisme, risiko pemulihan pasokan masih besar karena infrastruktur energi di Timur Tengah mengalami kerusakan parah dan negosiasi belum final.
- Pasar global mulai beralih ke aset berisiko, namun investor tetap waspada terhadap ketidakpastian waktu pembukaan jalur energi vital tersebut.

Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin pagi, 25 Mei 2026, setelah pasar merespons positif prospek tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Brent kontrak Juli tercatat di level US$ 98,97 per barel, turun signifikan dari posisi penutupan akhir pekan lalu di US$ 103,54. Sementara West Texas Intermediate (WTI) terpantau di US$ 96,6 per barel, melanjutkan tren pelemahan yang sudah berlangsung sejak pertengahan Mei.
Tekanan jual muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengindikasikan bahwa Washington dan Teheran telah menyelesaikan sebagian besar memorandum kesepahaman terkait perdamaian. Pasar langsung mengartikan sinyal ini sebagai peluang dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG global sebelum konflik. Data Refinitiv menunjukkan Brent sempat jatuh lebih dari 4% ke US$ 98,83, level terendah dalam dua pekan terakhir, sementara WTI tertekan ke area US$ 92 per barel.
Meskipun optimisme melanda pasar, jalan menuju normalisasi pasokan energi global masih panjang. Trump pada Minggu waktu setempat meminta tim negosiasinya untuk tidak terburu-buru menyelesaikan kesepakatan, menandakan masih ada isu-isu besar yang belum tuntas. Analis MST Marquee, Saul Kavonic, menyebut mulai terlihat "cahaya di ujung terowongan" bagi pasar minyak, namun ia mengingatkan bahwa implementasi perdamaian dan pemulihan jalur energi membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Pasar kini berada dalam fase tarik-menarik antara harapan damai dan realitas gangguan pasokan. Selat Hormuz memang berpotensi dibuka kembali, tetapi kerusakan infrastruktur energi selama konflik membuat distribusi minyak tidak bisa langsung pulih dalam hitungan hari. Strategis Commonwealth Bank of Australia menilai fokus pasar bergeser ke dua pertanyaan krusial: kapan Selat Hormuz benar-benar dibuka, dan berapa lama fasilitas produksi serta infrastruktur energi di Timur Tengah dapat kembali ke kapasitas sebelum perang.
Respons pasar global lain menunjukkan kehati-hatian. Bursa saham berjangka AS menguat karena investor mulai kembali ke aset berisiko, sementara dolar AS dan minyak melemah akibat ekspektasi meredanya tekanan geopolitik. Namun, volatilitas diperkirakan masih tinggi seiring perkembangan negosiasi yang belum final.



