Delapan Suporter Juventus Ditangkap Usai Kerusuhan Derby Turin
Baca dalam 60 detik
- Delapan anggota kelompok ultras Juventus diamankan aparat setelah bentrok dengan polisi dan suporter Torino di luar Stadio Grande Torino, Minggu lalu.
- Para tersangka dijerat pasal perlawanan terhadap petugas, pelemparan benda berbahaya, dan kepemilikan petasan saat acara olahraga.
- Insiden ini memicu penundaan kick-off satu jam serta aksi walk-out suporter Juventus yang meninggalkan tribun tandang kosong.

Delapan orang yang diduga sebagai anggota kelompok ultras Juventus resmi ditangkap pihak kepolisian Turin pascakerusuhan yang terjadi di luar Stadio Grande Torino, beberapa jam sebelum laga Derby della Mole dimulai pada Minggu (7/5). Insiden tersebut melibatkan bentrokan fisik antara suporter, aparat keamanan, dan kelompok pendukung Torino.
Menurut laporan yang dihimpun dari kantor berita ANSA, kedelapan individu tersebut kini menghadapi sejumlah tuduhan serius, termasuk melawan petugas yang sedang bertugas, melemparkan benda-benda berbahaya ke arah kerumunan, serta membawa dan menggunakan petasan dalam konteks acara olahraga. Langkah hukum ini diambil setelah penyelidikan intensif oleh otoritas setempat terhadap rekaman CCTV dan keterangan saksi di lokasi kejadian.
Kerusuhan ini bermula dari aksi protes kelompok ultras Juventus yang menolak pertandingan digelar. Mereka bahkan mengancam akan menyerbu lapangan jika laga tetap dilaksanakan. Meskipun demikian, Lega Serie A bersama aparat keamanan memutuskan untuk tetap melanjutkan pertandingan dengan penundaan satu jam dari jadwal awal. Sebagai bentuk bantahan, para ultras Juventus kemudian memilih meninggalkan tribun tandang, membuat sektor tersebut kosong selama pertandingan berlangsung.
Peristiwa ini kembali menyoroti masalah keamanan dan perilaku suporter di sepak bola Italia, yang kerap diwarnai oleh aksi kekerasan dan intimidasi. Langkah tegas kepolisian diharapkan dapat memberikan efek jera dan mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang. Ke depannya, koordinasi antara klub, otoritas liga, dan aparat keamanan menjadi kunci untuk menciptakan atmosfer pertandingan yang lebih aman dan kondusif bagi semua pihak.



