Suplementasi Vitamin D3 Dosis Tinggi Saat Hamil Terkait Peningkatan Kognitif Anak di Usia 10 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Studi dari JAMA Network Open menemukan bahwa ibu hamil yang mengonsumsi 2.800 IU vitamin D3 per hari melahirkan anak dengan memori visual dan verbal yang lebih baik pada usia 10 tahun.
- Temuan ini memperkuat peran vitamin D di luar kesehatan tulang, yaitu mendukung perkembangan otak janin melalui reseptor di hipokampus dan mekanisme antioksidan.
- Para ahli mengingatkan bahwa dosis tinggi tersebut belum menjadi rekomendasi standar dan diperlukan penelitian lebih lanjut pada populasi yang lebih beragam.

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di JAMA Network Open mengungkapkan bahwa pemberian vitamin D3 dosis tinggi selama kehamilan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi fungsi kognitif anak. Penelitian yang merupakan analisis lanjutan dari uji klinis acak Copenhagen Prospective Studies on Asthma in Childhood 2010 ini melibatkan 700 pasangan ibu-anak di Denmark.
Dalam studi tersebut, para ibu mengonsumsi suplemen vitamin D3 dosis tinggi sebesar 2.800 IU per hari atau dosis standar 400 IU per hari mulai minggu ke-24 kehamilan hingga minggu pertama pascapersalinan. Saat anak-anak mencapai usia 10 tahun, hampir 500 dari mereka menjalani tes kognitif melalui Copenhagen Prospective Study on Neuro-Psychiatric Development (COPSYCH) yang mengukur 11 fungsi kognitif berbeda, termasuk memori spasial, kecepatan motorik, perhatian berkelanjutan, dan waktu reaksi.
Sheryl Ross, MD, seorang ob-gyn bersertifikat dari Providence Saint John’s Health Center, menyambut antusias hasil studi ini. Menurutnya, vitamin D telah lama dikenal memiliki manfaat di luar kesehatan tulang dan otot, termasuk potensi mencegah penyakit kronis dan penurunan kognitif. “Reseptor vitamin D tersebar di seluruh tubuh, termasuk di hipokampus—pusat memori otak. Vitamin D juga berperan dalam perkembangan neuron, produksi dopamin dan serotonin, serta perlindungan antioksidan,” jelas Ross. Ia menambahkan bahwa temuan ini membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut tentang hubungan kadar vitamin D ibu dengan fungsi kognitif anak.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa hasil ini perlu diinterpretasikan secara hati-hati. Meridan Zerner, MS, RDN, CSSD, dari Meridan Zerner Nutrition, menekankan bahwa dosis 2.800 IU per hari jauh di atas rekomendasi American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) yang hanya 600 IU untuk perawatan prenatal. “Panduan saat ini tidak akan berubah berdasarkan satu analisis sekunder. Ada banyak faktor yang tidak terukur, dan basis demografis studi ini tidak mencerminkan populasi luas,” ujar Zerner.
Monique Richard, RDN, menambahkan bahwa kekurangan vitamin D masih umum ditemui. Ia merekomendasikan pendekatan berbasis makanan terlebih dahulu, seperti ikan berlemak, kuning telur, dan makanan yang diperkaya vitamin D, serta konsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum memutuskan suplementasi dosis tinggi. “Konsistensi dan penilaian individual sangat penting,” tegasnya.
Studi ini memberikan bukti awal yang menjanjikan tentang peran vitamin D3 dalam perkembangan kognitif anak, namun masih diperlukan penelitian dengan kohort yang lebih beragam, tindak lanjut jangka panjang, dan pencitraan otak untuk memperkuat hubungan kausal. Sementara itu, ibu hamil disarankan untuk tetap mengikuti pedoman standar dan berkonsultasi dengan dokter sebelum mengubah dosis suplemen.



