Memahami Tekanan Darah: Panduan Membaca Angka Sistolik dan Diastolik
Baca dalam 60 detik
- Tekanan darah diukur dalam mm Hg dan terdiri dari dua angka: sistolik (atas) dan diastolik (bawah), yang menjadi indikator utama kesehatan jantung.
- Hipertensi sering tanpa gejala namun meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, sementara hipotensi berat dapat mengganggu aliran darah ke organ vital.
- Pemantauan rutin dan gaya hidup sehat—seperti diet seimbang dan olahraga—membantu mengontrol tekanan darah, meski faktor genetik tetap berperan.

Tekanan darah merupakan ukuran gaya yang diberikan darah terhadap dinding pembuluh darah saat jantung memompa. Dalam dunia medis, satuan yang digunakan adalah milimeter air raksa (mm Hg). Angka ini menjadi salah satu parameter utama untuk menilai kesehatan kardiovaskular seseorang, baik saat terlalu tinggi (hipertensi) maupun terlalu rendah (hipotensi).
Sebuah pembacaan tekanan darah terdiri dari dua angka: sistolik (angka atas) dan diastolik (angka bawah). Sistolik merekam tekanan saat jantung berkontraksi, sedangkan diastolik mencatat tekanan saat jantung beristirahat di antara detakan. Menurut American Heart Association, angka sistolik seringkali menjadi indikator risiko penyakit jantung yang lebih signifikan, terutama pada individu berusia di atas 50 tahun.
Hipertensi kerap disebut "silent killer" karena jarang menimbulkan gejala awal. Namun, jika tidak terkontrol, kondisi ini dapat memicu komplikasi serius seperti penyakit jantung koroner, gagal ginjal, dan stroke. Sebaliknya, hipotensi berat—meski lebih jarang—dapat menyebabkan pusing, pingsan, hingga gangguan aliran darah ke organ vital yang berujung pada syok.
Faktor risiko tekanan darah tinggi meliputi usia, riwayat keluarga, obesitas, konsumsi garam berlebih, kurang aktivitas fisik, dan stres. Sementara itu, tekanan darah rendah bisa dipicu oleh dehidrasi, masalah jantung, gangguan hormon, atau efek samping obat tertentu. Meski beberapa faktor tidak dapat diubah, modifikasi gaya hidup terbukti efektif menurunkan risiko.
“Memantau tekanan darah secara rutin, baik di fasilitas kesehatan maupun mandiri di rumah, adalah langkah awal yang krusial. Jika hasil pengukuran menunjukkan angka di luar batas normal, segera konsultasikan dengan dokter,” ujar dr. Andika, spesialis jantung dari RS Pusat Nasional.
Untuk menjaga tekanan darah tetap ideal, para ahli merekomendasikan pola makan rendah garam dan kaya kalium (seperti buah dan sayur), olahraga aerobik minimal 150 menit per minggu, menjaga berat badan ideal, serta membatasi konsumsi alkohol dan kafein. Bagi penderita hipertensi, kepatuhan minum obat juga sangat penting.
Kesimpulannya, tekanan darah adalah cerminan kesehatan jantung yang harus dipantau secara berkala. Dengan memahami arti angka sistolik dan diastolik, serta menerapkan langkah pencegahan yang tepat, setiap individu dapat mengurangi risiko komplikasi kardiovaskular di masa depan.



