WHO Naikkan Status Risiko Ebola di Kongo ke Level 'Sangat Tinggi'
Baca dalam 60 detik
- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meningkatkan level risiko wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dari tinggi menjadi sangat tinggi di tingkat nasional.
- Hingga saat ini tercatat hampir 750 kasus suspek dan 177 kematian suspek, sementara kasus terkonfirmasi baru mencapai 82 dengan tujuh kematian.
- Ketidakstabilan keamanan dan kekerasan menghambat respons penanganan, sementara strain Bundibugyo yang mewabah belum memiliki vaksin atau pengobatan yang disetujui.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi meningkatkan status risiko kesehatan masyarakat akibat wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dari tinggi menjadi sangat tinggi di tingkat nasional. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam konferensi pers di Jenewa, Jumat (22/5). Meski demikian, risiko di tingkat regional tetap dinilai tinggi, sementara di tingkat global masih tergolong rendah.
Menurut data terbaru yang disampaikan Tedros, jumlah kasus suspek Ebola di DRC telah mendekati 750 orang, dengan 177 kematian suspek. Sementara itu, kasus terkonfirmasi tercatat sebanyak 82, dengan tujuh kematian. Angka ini menunjukkan bahwa wabah sebenarnya jauh lebih besar dari yang terdeteksi secara resmi. "Kami tahu epidemi di DRC jauh lebih luas," ujar Tedros.
Wabah kali ini disebabkan oleh strain Bundibugyo, varian Ebola yang belum memiliki vaksin atau terapi yang disetujui secara resmi. Strain ini telah dinyatakan sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional oleh WHO pada hari Minggu sebelumnya. Ketidaktersediaan vaksin dan pengobatan spesifik menjadi tantangan besar dalam upaya pengendalian.
Faktor lain yang memperumit respons adalah situasi keamanan yang tidak stabil. Tedros menekankan bahwa kekerasan dan ketidakamanan menghambat operasi penanggulangan di lapangan. Abdirahman Mahamud, Direktur Operasi Respons dan Kedaruratan Kesehatan WHO, menambahkan, "Potensi virus ini menyebar dengan cepat sangat tinggi, dan itu mengubah seluruh dinamika."
Di sisi lain, langkah-langkah yang diterapkan di Uganda, seperti pelacakan kontak intensif dan pembatalan acara massal, dinilai efektif dalam menekan penyebaran virus. Hingga saat ini, Uganda melaporkan dua kasus yang berasal dari pelancong dari DRC, dengan satu kematian.
WHO juga mengonfirmasi bahwa seorang warga negara Amerika Serikat yang bekerja di Kongo dinyatakan positif dan telah dipindahkan ke Jerman untuk perawatan. Selain itu, terdapat laporan mengenai warga AS lainnya yang memiliki kontak berisiko tinggi dan telah dipindahkan ke Republik Ceko.
Dalam upaya pencegahan, Kepala Ilmuwan WHO, Sylvie Briand, menyebutkan bahwa obat antivirus eksperimental bernama Obeldesivir dapat digunakan pada kontak erat pasien Ebola untuk mencegah perkembangan penyakit. Obeldesivir merupakan obat oral yang awalnya dikembangkan untuk COVID-19 oleh Gilead Sciences. "Ini adalah obat yang menjanjikan, tetapi masih harus diimplementasikan di bawah protokol yang sangat ketat," kata Briand.
Ke depannya, WHO akan terus memantau perkembangan wabah dan menyesuaikan strategi respons sesuai dengan dinamika di lapangan. Kolaborasi internasional dan dukungan keamanan menjadi kunci untuk memastikan upaya penanggulangan dapat berjalan efektif di tengah tantangan yang ada.



