Eksekusi mati terhadap Ali Fahim adalah sinyal mengerikan dari Teheran yang menunjukkan bagaimana pemerintah menggunakan ancaman eksternal (konflik dengan AS dan Israel) untuk membenarkan penindasan brutal di dalam negeri. Dengan melabeli pengunjuk rasa yang memprotes keruntuhan nilai mata uang Rial sebagai "agen asing" dan "teroris", rezim berusaha mendelegitimasi tuntutan sipil murni atas krisis ekonomi.
Pendekatan aparat yang secara terbuka menyatakan akan memperlakukan warga sipil yang protes sama seperti "pasukan musuh" menandai babak baru absolutisme di Iran. Ini menunjukkan tingkat kepanikan di lingkaran dalam rezim yang harus menghadapi perang di dua front sekaligus: eskalasi militer asing yang membayangi perbatasannya, serta potensi pemberontakan sipil di dalam batas negaranya sendiri.
β’ Kriminalisasi Total: Tuduhan berat seperti 'Enmity against God' (Moharebeh) dan 'Corruption on Earth' digunakan sebagai alat hukum absolut untuk menjatuhkan vonis mati secara kilat.
β’ Skala Korban: Konfirmasi lebih dari 3.000 tewas sejak Januari membuktikan bahwa pemerintah merespons krisis domestik bukan dengan kebijakan ekonomi, melainkan dengan kekuatan mematikan militer.
β’ Senjata Psikologis: Rangkaian eksekusi gantung yang dipublikasikan bertujuan menebar teror ke masyarakat agar tidak memanfaatkan momentum perang eksternal untuk menggulingkan pemerintah.
β’ Pesan Utama: "Ketika negara melihat warganya sendiri melalui lensa peperangan, setiap bentuk kebebasan berekspresi secara otomatis dianggap sebagai tindakan makar."




