Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) harus berakhir antiklimaks pada perdagangan akhir pekan ini. Laporan dari Antara News pada Jumat, 13 Februari 2026, mencatat bahwa indeks ditutup melemah signifikan akibat maraknya aksi ambil untung (profit taking) oleh para investor. Tekanan jual ini terjadi tepat menjelang libur panjang Tahun Baru Imlek, di mana pelaku pasar cenderung memilih untuk mengamankan aset tunai (cash is king) guna menghindari ketidakpastian pasar selama bursa libur.
Psikologi Pasar Jelang Libur Panjang
Fenomena pelemahan indeks sebelum hari raya besar adalah pola yang kerap berulang di pasar modal Indonesia. Investor, terutama trader jangka pendek dan institusi, melakukan penyesuaian portofolio untuk meminimalkan risiko volatilitas global yang mungkin terjadi saat pasar domestik tutup.
Selain faktor musiman Imlek, sentimen eksternal juga turut memberatkan langkah IHSG. Bursa regional Asia bergerak variatif (mixed) cenderung melemah, merespons rilis data ekonomi dari Amerika Serikat dan Tiongkok yang belum stabil. Sektor perbankan dan infrastruktur, yang sebelumnya menjadi penopang reli indeks di awal bulan, hari ini menjadi sasaran utama aksi jual masif, menyeret IHSG meninggalkan level psikologis pentingnya.
Prospek Pasca-Imlek: Harapan 'Year of the Horse'
Meskipun ditutup di zona merah, analis pasar modal tetap optimis melihat prospek jangka menengah. Koreksi wajar ini dinilai sebagai peluang bagi investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi beli (buy on weakness) pada saham-saham berfundamental kuat yang harganya terdiskon. Pasar menantikan "Angpao Imlek" berupa aliran dana asing (foreign inflow) yang diharapkan kembali deras setelah liburan usai, seiring dengan optimisme pertumbuhan ekonomi domestik di tahun 2026.




