Mata uang Garuda kembali tertekan hebat di penghujung pekan ini. Laporan dari MetroTV News pada Jumat, 13 Februari 2026, mencatat bahwa nilai tukar Rupiah melemah tajam hingga menyentuh level Rp16.836 per Dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah sikap hati-hati (wait and see) para pelaku pasar global yang menantikan rilis data ekonomi krusial dari Amerika Serikat. Tekanan eksternal yang begitu kuat membuat Rupiah sulit untuk bangkit, meskipun fundamental ekonomi domestik sebenarnya masih cukup solid.
Faktor Pemicu: Kekuatan Dolar dan Ketidakpastian Global
Sentimen utama yang menekan Rupiah adalah penguatan indeks Dolar AS (DXY) yang kembali perkasa. Investor global berbondong-bondong memburu safe haven asset (aset aman) seperti Dolar AS menyusul spekulasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) mungkin akan menunda pemangkasan suku bunga lebih lama dari perkiraan. Data inflasi produsen (PPI) AS yang akan segera dirilis menjadi penentu arah kebijakan moneter selanjutnya, dan ketidakpastian inilah yang membuat arus modal asing (capital outflow) keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di sisi domestik, Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi pasar melalui operasi moneter dan lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, derasnya tekanan jual dari investor asing di pasar obligasi membuat upaya stabilisasi ini menghadapi tantangan berat. Level Rp16.800 kini menjadi resistance baru yang harus diwaspadai, karena jika tertembus lebih dalam, dapat memicu dampak lanjutan pada inflasi barang impor (imported inflation).
Harapan Stabilitas Jangka Pendek
Para analis memprediksi bahwa volatilitas Rupiah masih akan tinggi dalam jangka pendek hingga ada kejelasan arah kebijakan The Fed. Pemerintah dan BI diharapkan dapat menjaga kepercayaan pasar dengan memastikan pasokan Dolar di dalam negeri tetap memadai, terutama untuk kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri korporasi. Kuncinya kini ada pada data ekonomi AS; jika inflasi melandai, Rupiah berpotensi rebound. Namun jika sebaliknya, tekanan terhadap mata uang Garuda bisa berlanjut hingga kuartal berikutnya.




