Delhi Masuki Musim Polusi, Kualitas Udara 30 Kali Lipat Ambang Aman WHO
Baca dalam 60 detik
- Indeks kualitas udara Delhi melonjak di atas 650, memaksa warga 30 juta jiwa menghirup udara beracun setiap hari.
- Pemerintah memberlakukan pembatasan kendaraan hingga work from home, tetapi dampaknya dinilai belum signifikan.
- Para aktivis mendesak perbaikan transportasi publik dan regulasi emisi, sementara rencana cloud-seeding diragukan.

Kualitas udara di New Delhi kembali memburuk drastis seiring masuknya musim dingin, dengan indeks kualitas udara (AQI) melampaui 650—lebih dari 30 kali batas aman yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kondisi ini menempatkan sekitar 30 juta penduduk ibu kota India tersebut dalam risiko kesehatan serius setiap harinya.
Fenomena yang oleh warga setempat disebut sebagai "musim polusi" ini terjadi hampir setiap tahun. Kabut asap pekat bercampur partikel beracun menyelimuti kota, sementara warga tetap harus beraktivitas di luar ruangan. Keluhan batuk, mual, dan mata perih menjadi pemandangan umum. Meski berbagai kebijakan telah diterapkan oleh pemerintah negara bagian dari masa ke masa, perbaikan kualitas udara tak kunjung terwujud selama lebih dari satu dekade.
Penyebab polusi di Delhi sangat kompleks. Emisi kendaraan menjadi kontributor utama, dengan hampir 10 juta mobil, bajaj, sepeda motor, dan truk beroperasi setiap hari. Selain itu, petani di negara bagian tetangga, Haryana dan Punjab, masih membakar lahan untuk persiapan tanam meskipun praktik tersebut ilegal. Asap dari pembakaran ini terbawa angin ke Delhi. Emisi pabrik, debu konstruksi, dan pembakaran sampah turut memperparah kualitas udara.
Dampak kesehatan pun semakin nyata. Rumah sakit melaporkan lonjakan pasien dengan gangguan pernapasan. Dokter dan aktivis menyebut situasi ini sebagai "darurat kesehatan". Studi tahun lalu mengungkap bahwa setidaknya 15% kematian di Delhi terkait polusi udara—angka yang lebih tinggi dibandingkan kematian akibat obesitas atau diabetes. Kelompok rentan, terutama keluarga miskin dan pekerja migran, menjadi pihak yang paling terdampak karena mereka tidak memiliki pilihan selain bekerja di luar ruangan.
Pemerintah negara bagian telah mengeluarkan sejumlah pembatasan, seperti larangan penggunaan batu bara dan kayu bakar, penghentian sementara kegiatan konstruksi, serta pelarangan kendaraan diesel dan bensin berusia tua. Perkantoran diimbau menerapkan kerja dari rumah untuk mengurangi kepadatan lalu lintas. Truk penyiram air juga dikerahkan untuk menekan debu. Namun, berbagai langkah ini diakui belum mampu menurunkan tingkat polusi secara signifikan.
"Polusi telah menjadi masalah yang begitu lama sehingga menjadi hal yang biasa. Warga jarang memakai masker di luar ruangan, dan taman-taman tetap dipenuhi keluarga serta anak-anak yang berolahraga," demikian pengamatan yang dilaporkan The Guardian.
Kesenjangan sosial semakin terlihat dari akses terhadap udara bersih. Keluarga kaya dan kelas menengah mampu membeli penyaring udara untuk rumah mereka, sementara mayoritas keluarga miskin yang tinggal di tempat penampungan darurat tidak memiliki kemampuan tersebut. Alhasil, menghirup udara bersih selama musim polusi telah menjadi kemewahan tersendiri di Delhi.
Polusi tidak hanya terjadi di Delhi. Seluruh India utara, termasuk Punjab dan Haryana, mengalami kualitas udara beracun akibat pembangkit listrik tenaga batu bara, kendaraan bermotor, dan pembakaran lahan. Kota Amritsar di perbatasan Pakistan juga mencatat tingkat polusi yang sangat berbahaya selama musim dingin. Kondisi ini diperparah oleh topografi Delhi yang berada di lembah seperti mangkuk, sehingga angin dan hujan minim saat musim dingin membuat emisi terperangkap di atas kota.
Para aktivis lingkungan mendesak pemerintah untuk menginvestasikan lebih banyak dana guna membangun transportasi publik yang memadai dan memperketat regulasi emisi kendaraan. Jumlah mobil di Delhi terus bertambah setiap tahun, sementara porsi kendaraan listrik masih sangat rendah. Jaringan bus dan metro memang telah ada, tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan harian yang sangat besar, dan konektivitas antarkawasan masih buruk. Akibatnya, sebagian besar warga tetap bergantung pada bajaj, mobil, dan sepeda motor yang mencemari udara.
Pemerintah tahun ini berencana menguji coba teknologi "cloud-seeding" untuk memicu hujan buatan yang diharapkan dapat membersihkan langit. Namun, banyak warga dan aktivis menilai rencana tersebut sekadar gimmick selama akar masalah polusi tidak ditangani. Sebelumnya, pemerintah juga pernah dituduh memanipulasi data kualitas udara, termasuk dugaan penyemprotan air di sekitar alat pemantau untuk menurunkan angka bacaan.
Di tengah perdebatan soal solusi, pertanyaan mendasar muncul: apakah Delhi akan terus terjebak dalam siklus polusi tahunan, ataukah ada keberanian politik untuk menempuh langkah struktural seperti yang pernah dilakukan Beijing? Tanpa intervensi radikal, musim polusi akan terus menjadi momok bagi jutaan warga—dan udara bersih akan tetap menjadi barang mewah yang tak terjangkau.



